Satu waktu, tepatnya pada subuh hari tanggal 31 Desember 1989, sepasang suami istri tengah menanti kehadiran seorang anak pertama. Dalam kecemasan sang ayah, dan kesakitan sang ibu, waktu seolah meledek dengan berjalan lebih lambat dari biasanya. Jarum di dinding berdetak dengan perlahan; mengeluarkan bebunyi yang tanpa sadar semakin mendramatisasi keadaan. Akhirnya, saat detiknya yang telah ditetapkan-Nya bergulir, terlahirlah seorang anak laki-laki yang luar biasa tampan. Tangisannya memecah ruah beriringan senandung adzan subuh kala itu. Tangis itu (dan adzan itu) menghapus kecemasan, dan melepas kesakitan. Hadirnya disambut senyum bahagia orang-orang disekitarnya. Isaknya membawa lega bagi orang yang melihatnya.
Tak lama berselang, ayah bundanya memikirkan sebuah pengharapan mulia yang akan mereka tangguhkan ke pundaknya. Mereka mencari-cari do’a apa yang akan mereka simpul dalam sebuah nama yang memiliki syarat harus punya makna dan daya jual. Akhirnya, diujung pencarian, terangkailah sebuah nama yang indah dan terdengar keren: Gibran Huzaifah Amsi El Farizy.
Gumam mereka, “Gibran adalah nilai untuk romantisme hati, Huzaifah adalah representasi dari kejelian inderawi, Amsi adalah tanda kepemilikan, dan El Farizy adalah penangguhan kehausan dan kecerdasan intelektual.” Rangkaian nama yang disadur dari nama tokoh-tokoh ternama: Kahlil Gibran sang penyair Lebanon, Hudzaifah Al Yamani sang agen rahasia, Amri-Suciati sang perantara (baca: bapak ibunya), dan Salman Al Farisi (modif dikit: El Farizy) sang pencari kebenaran. Nama yang bermakna, nama yang menjual. Memenuhi syarat -> sah.
Tapi nama hanyalah nama. Dia, pada kenyataannya, sama sekali tidak merepresentasikan sifat yang diharapkan dari tokoh-tokoh yang berperan dalam memanjangkan namanya itu. Banyak waktu di hidupnya yang ia habiskan dalam keselengean dan ketidakpedulian. Mungkin dia lebih cocok dengan nama “Selenge Tak Peduli”. Dengan nickname yang mungkin bisa jadi pilihan: Ngenge, (ba)Tak atau Doel. Tapi karena begitu lamanya proses birokrasi penggantian akte kelahiran di negaranya (dan tentu saja karena memang tidak ada yang setuju), dia tetap menggunakan nama lamanya: Gibran Huzaifah Amsi El Farizy. Nama indah yang susah dihapal orang, dan merepotkan jika digunakan dalam ujian-ujian yang mengisi lingkaran.
Dalam kesehariannya, Ia sering membayangkan peperangan-peperangan dari zaman ke zaman. Dan dia pun mengagumi sebuah peran dalam setiap perang: Tentara Berkuda. Ia mengaggap bahwa tentara dengan kudanya amatlah gagah dan mampu menerobos benteng lawan. Maka jadilah ia tentara berkuda. Yang berlarian kencang ke depan menembus barisan. Yang terkadang kelelahan dan rehat sebentar. Yang tak jarang jatuh terseret dan tertinggal pasukan.
Biar bagaimanapun, bahkan di zaman seperti sekarang ini, ia tetaplah tentara berkuda. Karena ia tetap merasa tentara dengan baju zirah dan senjata metafisis di tangannya. Ia tetap merasa berkuda dengan kuda tak kasat mata diiringannya. Bersenjatakan amanah, berlindungkan iman, dan berkudakan mimpi, ia tetap melaju kencang atau melesat lambat ke sebuah tujuan yang tak perlu seorangpun tahu. Ia berlari meninggalkan jejak yang terpatri dalam memori, yang kemudian dituliskan ke dalam diari (wihi, rimanya sesuai).
Dan percayalah, bahwa setiap kata yang dihadirkan di blog ini adalah nyawa; karena dia membawa putih legam kehidupan seorang pejuang kebenaran.
Jejak Tentara Berkuda, Sebuah Rekaman Petualangan.





cie…cie…puitis bener…mau ah ntar nyoba nulis puitis juga…=9
Oleh: adjiewicaksana on Mei 31, 2008
at 5:45 pm
ijin nge-fetch blog-nya di http://blogs.gamais.itb.ac.id
rajin2 posting ya biar sering nongol disana
Oleh: aisar on Juni 29, 2008
at 3:11 pm
canggih kali,,, masih bayi tapi udah bisa ngitung panjang & massa.
Oleh: Dhimas L N ---- (^-^)v on Juli 5, 2008
at 12:07 am
Sama, bos! Lahir pas ayam be-kokok! Hehehe…
Oleh: karafuruworld on Juli 7, 2008
at 6:28 am
Assalamu’alaikum wr.wb.
Gibran, blognya ane link yah
Moga manfaat
Amin
(btw, inget aq g?)
Wassalamu’alaikum wr.wb.
Oleh: Rachmad Vidya on Juli 24, 2008
at 2:55 pm
assalamualaikumwrwb
punteun.. mo izin dimasukin k blogroll..
nuhun..
wassalamualaikumwrwb
Oleh: sariyusriati on Juli 25, 2008
at 1:39 pm
Assalamu’alaykum,Gibran!
Lama nggak ketemu di acara Akpro, kemarin liat kamu nge-MC di buber se-ITB, eh sekarang nyasar ke blogmu. Hehe. BTW, bagian ini bikin pengen muntah deh:
Orang tuanya yang takjub melihat ketampanannya (bener-bener tampan)
Hehe…keep writing ya!
Oleh: egadioniputri on September 20, 2008
at 5:33 am
arin ngomen lagi?
bawel banget sih nih anak!!!!
hohohoho…gpp ya… (nge-fans! nge-fans!)
abis seru sih…
baca tulisannya (ehmmmffff… gwa panggil lu apa ya chuy?>>>> anak ITB temennya Nadia di kampus yang suka nge-blog juga, halah! panjang, dudul!
oiyah! arn teh cuma mw bilang, blognya udah di link dari yang arinvsfayra.wordpress.com dg yang di arindunkz.blogspot.com
okeh! okeh!
Oleh: arinvsfayra on Oktober 29, 2008
at 11:12 am
wuih…
jauh uy profesional mah..
tapi amin lha ya…
amin ya Allah amin!
seengga-engganya gwa punya cadangan
bakal jadi apa gwa suatu hari nanti..hihihi
ah…
dirimu nih yang low profile..
tulisannya udah bagus gini juga,
kan semua penulis punya gayanya sendiri,
dan inilah gaya kamu, (yang kalau menurut gwa mah mirip2 gaya tulisnya Andrea Hirata)
have fun in the writing world aja yakz…
percuma nulis tapi kitanya ga have fun mah…
hoho
(sok ahli! sok ahli!)
Oleh: arinvsfayra on Oktober 30, 2008
at 7:26 pm
Plok..plok..plok!!!!!
Sajak yang indah dan romantis.
Konichiwa,…
hajimemashite!!
Oleh: fantasticdreams5 on Oktober 30, 2008
at 8:53 pm
sejauh ini tulisannya sih oke2, tapi fotonya itu lho mas, ga banget deh….
maap, lagi pengen jujur…
Oleh: plantlover on November 4, 2008
at 7:27 pm
asw..
GILA!
LEBAY ABIS!
tapi puitis!
tapi bacanya ga bikin nangis!
yee, rimanya sama
(nyontek kata-katanya ya?)
Oleh: 164..... on Desember 1, 2008
at 11:23 am
asw
btw. kok wajahnya ga’ pernah diliatin kak geby?
Oleh: karuxs on Desember 26, 2008
at 10:47 am
Ehm, soalnya takut akhwat2 pada terkesima gitu, kan nanti dosa, hehe,
Oleh: gibranhuzaifah on Desember 26, 2008
at 11:03 am
mana coba yang mirip moon ryong teh?
mana?
aga2 ga ikhlas gitu gwa… hwakakakakak!
coba lu tonton lagi, then bandingkan dengan benar….
pasti temen2 lu waktu itu matanya bermasalah.
HWADEZIG!!!!!
Oleh: arinvsfayra on Januari 2, 2009
at 5:30 pm
Assalamu’alaikum
Salam kenal mas… Jangan lupa kapan2 berkunjung juga kesini baca artikel artikel Islam.
wassalam
Oleh: SR4Y4 Lw4t on Juni 5, 2009
at 10:58 am
Assalamu’alaykum.Hm…salam ukhuwah dari man yogya 3,kayaknya perlu buanyak belajar nih…tulisannya bagus….semangat maanajah
Oleh: dhita on Juni 11, 2009
at 2:04 pm
Wa’alaikumsalam.
Alhamdulillah, semangat terus juga ya..
Oleh: gibranhuzaifah on Juni 12, 2009
at 6:32 am
Assalamu’alaikum
Salam kenal mas… Jangan lupa kapan2 berkunjung juga kesini.
wassalam
Oleh: SR4Y4 LWat on Juli 9, 2009
at 10:46 am
[...] Regard for Gibran Huzaifah Tag: arin n [...]
Oleh: MENGHIDUPKAN NILAI TRADISIONAL RAMADHAN (Gibran’s article) « Share Your Words to the World on September 6, 2009
at 1:59 am
Bang gibran tuker link ya =)
Oleh: Fuad on Oktober 14, 2009
at 3:29 pm
Oke.
Oleh: Pembela Kebenaran on Oktober 15, 2009
at 9:57 pm