Ada orang yang mengais sampah, menjual diri, dan merenggut nyawa untuk mempertahankan hal yang sama: hidup. Betapa berharganya nilai sebuah kehidupan hingga banyak orang menukarnya dengan menanggalkan kebaikan yang ada dalam dirinya. Betapa berharganya hidup, hingga hewan yang memiliki volume otak yang terkecil sekalipun, dikaruniai insting alamiah untuk mempertahankan hal itu. Maka, segala puja-puji bagiNya yang telah memberikan berkah berupa dua puluh tahun kehidupan bagi seorang anak manusia yang kerapkali lupa untuk bersyukur. Alhamdulillah, Rabbil ‘alamin.
Merefleksikan kehidupan laksana memencarkan potongan-potongan citra mutakhir. Ya, citra yang tergambar kokoh dari diri seseorang adalah susunan dari potongan puzzle masa lalu, yang keping demi keping menyusun satu bagian yang saling melengkapi, atau, setidaknya, saling menuju kelengkapan. Merefleksikan dua dekade kehidupannya, adalah mengungkap titik demi titik perjalanan, semenjak bayi itu lahir dan belum mampu menggunakan apapun dalam dirinya, hingga ketika ia menyadari bahwa setiap organ dalam tubuhnya berguna, maka haruslah ia menjadi seorang yang berguna.
Masa Balita: Sanjungan Sosial
Ia dilahirkan di perbatasan antara tahun 1989 dan 1990, ketika dunia baru diramaikan dengan runtuhnya tembok berlin, dan Indonesia baru saja kegirangan karena dipijak pesawat F-16. Secara garis patriarkis, Ia memiliki darah Sumatera, lebih tepatnya Deli, perbatasan antara Sumatera Utara dan Barat. Secara matriarkis, ia mewarisi darah Cirebon, perbatasan antara Jawa Barat dan Tengah. Dari tiga pernyataan ini terdapat satu irisan: perbatasan. Maka, ia adalah anak perbatasan, dan sepanjang hidupnya memang diwarnai dengan perbatasan: antara baik dan buruk, benar dan salah, ganteng dan jelek, menang dan kalah.
Ayahanda adalah seorang yang tidak pernah memiliki kampung, dan Jakarta adalah satu-satunya kota yang ia sebut sebagai tempat asalnya, tempat lahir dan besarnya. Ayahnya adalah lelaki metropolis tulen. Ibunda, lahir dan besar di sebuah pinggiran di Cirebon, desa yang dulunya jauh dari kehidupan kota dan dipenuhi sawah dan kandang ayam. Ibunya adalah gadis desa tulen. Ayahnya gagah dan terlihat garang, ibunya lembut dan nampak kemayu. Ayahnya pendiam dan penyendiri, ibunya ceria dan pandai bergaul. Ayahnya pria, ibunya wanita. Dari genotipe yang bertentangan inilah ia terbentuk. Karena itulah, dirinya adalah campuran antara sifat dari dua kutub yang berbeda, yang disatupadukan oleh kokohnya tali cinta (maaf, bagian ini sedikit tersinetronisasi).
Ia dibesarkan dalam keluarga yang beradab, memiliki pengetahuan tentang agama dan norma-norma tradisional. Ada tiga hal yang menarik: 1) Ia adalah anak dan cucu pertama dari kedua pihak (ayah dan ibu), 2) Ia adalah anak dan cucu yang paling tampan dari kedua pihak (ayah dan ibu), dan 3) Ia anak yang cerdas. Ayah dan bundanya adalah anak pertama dari kakek-neneknya yang menikah, sehingga wajar jika ia menjadi cucu pertama. Atas alasan inilah ia menjadi cucu yang paling tampan karena masih satu-satunya, tanpa saingan. Untuk selanjutnya titel sebagai cucu paling tampan akan selalu dipertanyakan karena satu persatu adik dan sepupunya lahir, dan mereka semua tampan. Sebagai anak dan cucu pertama, ia hidup dalam limpahan kasih sayang yang luar biasa dari kedua orang tuanya maupun keempat kakek-neneknya. Kasih sayang itu menempatkannya dalam posisi yang istimewa dalam lingkup keluarga.
Di sisi lain, dia adalah anak yang cerdas. Dalam usia tiga tahun telah mampu membaca dan sedikit berhitung. Di lingkungan tempat ia hidup, itu merupakan hal yang sangat spesial yang menjadikannya anak yang dianggap spesial oleh berbagai komponen sosial. Sanjungan adalah rutinitas harian yang dilimpahkan oleh siapapun orang yang berpapasan dengannya saat itu. Pada interval ini, sanjungan sosial menempatkan satu mozaik yang melekat kuat hingga perjalanan hidup setelahnya.
Sekolah Dasar : Emosi dan Kompetisi
Mendeskripsikan seorang dia di tingkat Sekolah Dasar cukup dengan mengimajinasikan seorang Nerd, kutu buku, yang biasa digambarkan pada film-film remaja, dengan menghilangkan komponen kacamata tebal. Ia adalah Nerd. Seorang anak dengan penampilan fisik sebagai berikut: rambut klimis, celana 10 cm di atas lutut, kemeja dikancingkan hingga bagian atas, berdasi rapi, ikat pinggang tampak, dan sepatu hitam a la Converse –yang dulu tidak gaul. Secara prestasi, ia juga Nerd. Siswa teladan yang selalu menempati peringkat pertama di kelas hingga kelas 5, dan menjadi pujaan semua guru wanita, selain karena wajahnya yang lucu.
Secara gaya hidup, ia lebih-lebih sangat Nerd. Tidak pernah jajan sepeserpun hingga kelas 3, tidak atletis, tidak pernah diajak bermain petak umpet hingga kelas 4, dan selalu menempati bangku terdepan di kelas. Lalu, hal yang paling mengindikasikan ke-Nerd-annya adalah, ia sering dikerjai teman-temannya yang nakal. Disandung ketika berjalan, dijitak-jitak, dilempar topi kesana-kemari hingga menangis, dan lain sebagainya. Itu semua berlangsung hingga satu saat datang seorang gadis yang paling berani, paling galak, dan, mahasuci Engkau yang menciptakan, paling manis luar biasa, melindunginya dari teman-teman banditnya itu. Sejak saat itu, gadis itu mengubah dirinya: melindungi dari bandit-bandit, mengajaknya main petak umpet, memaksanya bercanda, dan secara tidak langsung mendorong ia untuk lebih stylish.
Setiap ada keisengan golongan badung, mengambil topi misalnya, gadis itu seketika akan langsung meneriakkan nama bandit itu, mengacungkan jarinya, dan memerintahkan dengan tegas untuk mengembalikan topinya saat itu juga. Semua bandit akan seketika menuruti. Lalu, dengan lembut, gadis itu akan memasangkan topi itu di kepalanya. Untuk alasan dramatisasi, kalimat terakhir akan diulang: memasangkan topi itu di kepalanya. Tanpa melebih-lebihkan, kejadian yang berlangsung di akhir kelas 3 itu membuatnya terdiam dan terhanyut dalam perasaan yang entah apa. Ia mengartikulasikannya dengan “rasa suka”.
Dewi Aphrodite memang baik hati. Entah kenapa, takdir membawa mereka dalam kelas yang sama di kelas 4A. Dan entah kenapa jua, kebijakan wali kelas saat itu yang menempatkan siswa pada tempat duduk yang seenak udel si guru itu memasangkan ia dan gadis manis dalam satu meja. Ya, ia berada berpasangan di satu meja dengan sang gadis pujaan. Ini artinya: ada senyuman manis setiap pagi dan ada interaksi intensif setiap hari. Ah, setiap hari. Tak ayal, obrolan, canda, tawa, gurauan, dan iseng-isengan saat itu menjadi pupuk, air, dan perawatan yang bergizi bagi tumbuhnya bibit yang sebelumnya telah tertanam. Pohon itu tumbuh lebih cepat dibandingkan pohon kacang pada dongeng “Jack dan Pohon Kacang”. Saking cepatnya, ia hanya bisa pasrah mendongak melihatnya berkembang.
Momen-momen itu hanya terjadi selama setahun. Ketika kelas 5, ia dan gadis itu terpisah kelas. Ah, itu sih biasa saja. Tapi ada yang lebih buruk, seperti kata pepatah, “Tidak ada yang lebih buruk dibandingkan cinta yang tak berbalas”. Saat itu ia baru mengetahui bahwa rasa suka ia tidak berbalas, itu buruk. Tapi, lebih-lebih, ternyata gadis itu menyukai teman sebangkunya yang sekarang, seorang anak yang secara umur lebih tua, dan secara fisik menurutnya (walaupun dibantah oleh teman-temannya saat itu), lebih jelek dibandingkan dengan dirinya yang tampan. Ah, rasa-rasanya ia ingin meralat pepatah itu, bahwa ada yang lebih buruk dibanding cinta tak berbalas, yaitu “Suka tak berbalas karena yang disuka menyukai seseorang yang lebih tua dan lebih jelek dibanding dirinya”. Maka, ia cemburu, dengan rasa cemburu yang membakar dada, yang menyayat. Ini serius. Dari sinilah ia mengetahui, bahwa secara emosional, ia berkembang lebih cepat dibandingkan anak-anak sebayanya.
Patah hati ini membuatnya terpuruk. Terbukti, kelas 5 adalah kali pertama ia tidak meraih peringkat 1. Selain karena faktor guru yang menyebalkan, harus diakui bahwa ia kehilangan semangat. Semangat yang salah satunya dikatalisasi oleh senyuman manis gadis satu meja. Dan turbin penggerak itu hilang, meredupkan semangatnya selama dua caturwulan. Semangat itu baru bisa kembali menyala saat caturwulan ketiga di kelas 5. Ketika ia akrab dengan wanita lain, yang sama sekali tidak manis dan tidak menarik hatinya, namun memiliki kecemerlangan intelektual yang membuatnya iri. Karena itulah, sisa masanya di Sekolah Dasar tidak lagi membuat ia selalu di peringkat pertama, karena seringkali kalah bersaing dengan gadis pintar itu. Namun, masa itu adalah waktu dimana nilainya berada pada rata-rata puncak sepanjang sejarah akademisnya. Ia hidup, bersemangat, exciting, melalui proses yang berbeda dengan sebelumnya. Semangatnya direaksikan oleh katalisator yang berbeda, namun menghasilkan produk yang serupa: kehidupan. Ia benar-benar hidup.
Ia menyadari, bahwa masa Sekolah Dasar menyematkan faktor emosi dan kompetisi yang tumbuh lebih cepat. Baginya, kedua hal itu terus melekat dalam kehidupannya sepanjang hayat, mewarnai momen-momen hidupnya dalam sudut pandang yang berbeda, lebih berwarna.
Sekolah Menengah Pertama: Kepala Batu yang Semakin Mengeras
Pasca kelulusan dengan nilai tertinggi kedua setelah si gadis pintar, ia memutuskan untuk melanjutkan ke SMP Negeri 92 Jakarta. Alasannya, karena ia ingin terus berkompetisi. Si gadis pintar memang berencana masuk ke SMP itu. Di sisi lain, secara peringkat dan gengsi, SMPN 92 Jakarta adalah sekolah favorit, peringkat 2 se-Jakarta Timur. Walaupun demikian, sial baginya, saat itu sekolah sedang mengadakan renovasi, sehingga selama satu tahun ia harus menumpang di gedung SD yang berfasilitas buruk.
Gadis pintar itu, yang menjadi salah satu alasan ia memilih bersekolah di SMPN 92 ternyata hilang, tidak terdaftar sebagai siswa. Kabarnya, rumahnya terbakar dan ia harus kembali ke kampungnya karena tidak ada tempat tinggal. Kapasitas intelektualnya yang dahsyat harus terbentur ketidakadilan, tidak mampu melanjutkan sekolah karena keterbatasan biaya. Semenjak pengumuman Ujian Nasional (dulu disebut EBTANAS), ia belum lagi berjumpa dengan si gadis pintar. Kalimat terakhir yang ia dengar adalah “Gue bakal ngelanjutin di SMPN 92, lo daftar ke sana juga ya!”. Ah, naas. Ia bahkan tak sempat mengucapkan salam. Dalam perspektif tertentu, saat itu ia memandang takdir sebagai ketentuan yang tidak adil.
Yang lebih parah lagi, tidak banyak temannya yang masuk ke SMP ini. Sebagian besar temannya memilih SMPN 99 Jakarta karena lebih mudah diakses, secara letak maupun passing grade. Hanya 3 orang dari puluhan siswa SD-nya yang masuk ke SMPN 92. Salah satunya ia, dan dua lainnya adalah wanita yang memiliki sifat sama: sombong, angkuh bukan main. Tentu saja, ia tidak dekat dengan mereka. Kondisi ini membuatnya tidak betah bersekolah di SMP itu, sehingga satu tahun disana nyaris tidak meninggalkan hal yang berkesan.
Pada tahun selanjutnya ia pindah sekolah, karena kedua orang tuanya membeli rumah baru di bilangan Bekasi. Sekolah barunya adalah SMP Islam Terpadu, Gema Nurani namanya. Sekolah baru ini benar-benar baru. Ia adalah angkatan kedua yang berjumlah 30an orang, dan angkatan di atasnya hanya sejumlah 12 orang. Ya, sekolah baru dengan bangunan, kurikulum, regulasi, dan budaya yang masih dalam tahap konstruksi. Di masa inilah dia mempelajari Islam dengan mendalam. Untuk urusan ilmu agama, fiqh, dan lain sebagainya, ia adalah juaranya.
Masa ini ia anggap sebagai tahapan dimana intelektualnya berkembang pesat. Banyak buku dilahap dan diinterpretasikan dalam sudut pandang tersendiri. Tidak hanya itu, terkadang ia membuat hipotesis dan mengujinya secara langsung dalam bentuk eksperimen independen. Perspektif ekperimental-sosial yang menempatkan lingkungan sekitar sebagai objek dan ia sebagai subjek. Di masa depan, hal ini menjadi aktivitas menyenangkan yang sering ia lakukan, dengan metode yang lebih humanis.
Nilai-nilainya selalu yang tertinggi, terutama tentang keagamaan. Ia menjadi pusat pertanyaan segala hal yang berkaitan dengan agama. Mengibaratkan mata uang, itu adalah satu sisi. Di sisi lain, yang bertolak-belakang, keliarannya tumbuh dalam pergaulan. Perilakunya menerobos segala pengetahuan tentang moral dan keagamaan. Ia nakal, melakukan hal-hal yang tidak pantas, tapi bukan dalam kondisi labil dan tidak sadar. Dia hanya ingin menguji hipotesisnya dengan eksperimen nyata, yang terkadang salah kaprah. Dia hanya kepala batu.
Keras kepala adalah hal pertama yang paling menonjol dari sifatnya saat itu. Ketika ia menginginkan satu hal, maka jangan harap ada satu alasan yang mampu menghalaunya kecuali impuls dari dirinya sendiri. Dilarang orang tua untuk bermain bola, ia tak acuh, alih-alih bermain bola sehari tiga kali, hingga malam. Peraturan sekolah untuk tidak begini dan begitu, dibantahnya, hanya karena ia ingin begini dan begitu. Ia berkepala batu. Satu waktu, di akhir kelas 3, ketetapan Islami di sekolahnya dilanggar. Seharusnya jabatan sebagai siswa dicabut karena pelanggaran tersebut. Namun, sepertinya Tuhan masih memberikan kesempatan. Saat itu ia telah didaftarkan sebagai peserta UN, sehingga mau tidak mau, sekolah tidak bisa mencoretnya status kesiswaannya. Ia selamat, untuk sementara.
Allah tetaplah Maha Adil, barang siapa berbuat, harus diberikan balasan yang setimpal perbuatannya. Peraturan sekolah gagal bertindak, maka takdir mulai memihak. Ia tidak lulus Ujian Nasional pada mata pelajaran Bahasa Indonesia karena tidak melewati ambang batas yang hanya sebesar 3,25. Bayangkan ini: seorang siswa berprestasi, juara umum, nyaris selalu peringkat satu, dan secara khusus selalu mendapatkan nilai 9 di rapor untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, tidak berhasil mendapatkan nilai 3,25 dalam Ujian Nasional. Tidak ada seorangpun yang percaya, apalagi dirinya sendiri. Gurunya meminta ia mengulang jawaban yang sama lalu dikoreksi secara manual oleh sekolah. Hasilnya, berbeda jauh, nilai dari jawaban itu 8,77. Itu seharusnya menjadi nilai tertinggi. Namun, apa daya, ayahanda yang sudah berusaha memperjuangkan kebenaran itu melalui urusan dengan birokrasi gagal. Ia terpaksa melakukan ujian perbaikan. Mulai titik ini ia menaruh benci pada birokrasi.
Menyesal namun kesal dengan kejadian itu, ia tetaplah kepala batu. Sedikitpun tak pernah ia mencoba belajar untuk ujian perbaikan itu. Kepalanya yang keras ingin membuktikan mentah-mentah kepada dirinya sendiri, bahwa soal rendahan macam itu akan dengan mudah ia kerjakan. Hasilnya tidak memuaskan memang, ia hanya memperolah nilai 7,6. Ia tidak peduli, keinginannya untuk masuk sekolah negeri favorit terpaksa tandas karena kesalahan itu. Tapi ia tetap berkepala batu: bahwa di lumpur pun permata tetap permata; dimanapun ia bersekolah, kesuksesan yang ia suarakan tentang cita-cita menjadi insan terkaya, dan harapan orang tua agar kelak masuk ke perguruan tinggi negeri akan bisa tercapai.
Pada masa ini kepala yang batu semakin mengeras. Keinginannya akan segala sesuatu, positif atau negatif akan diupayakan untuk terlaksana bagaimanapun caranya. Ia keras kepala dalam kebaikan maupun keburukan. Pengetahuan akan moral tidak mencegahnya berbuat buruk, sama halnya dengan pengetahuan akan rintangan rumit tidak mencegahnya berbuat baik. Ia tetap maju, melakukan hal-hal yang menurutnya perlu atau sekadar ingin, tanpa mempedulikan hal apapun, selain apa yang ada di dalam kepalanya yang membatu.
Sekolah Menengah Atas : Ambisi, Cita-cita, dan Kepemimpinan
Tidak di tempat yang diharapkan, laksana Siti Nurbaya yang diperistri Datuk Maringgih, itulah ia. Alih-alih memasuki sekolah favorit macam SMAN 8 Jakarta yang diidamkan, ia tersasar di sekolah kecil, sederhana, terpelosok, dan menghimpit rawa, SMA Islam PB. Soedirman 2 Bekasi. Ekspektasi awalnya, sekolah itu nyaris tidak memiliki keunggulan yang berarti: secara akademik, kualitas guru, sarana-parasarana, sistem seleksi, semuanya biasa saja. Ia memasang ekspektasi yang rendah untuk sekolah dan prediksi komponen-komponen yang mungkin melekat padanya. Namun, ekspektasi dari lelaki berkepala botak berwajah batak di masa awal tahun ajaran harus ditolak mentah-mentah dengan peribahasa, “Don’t judge a book just by its cover”. Ternyata sekolah ini memiliki keistimewaan yang spesifik yang juga mengembangkan dirinya secara spesifik.
Sebelum membahas keistimewaan di sekolah itu, mari sedikit flashback ke tahap SMP. Dengan proklamasi kepala batunya, ia harus membuat keinginan yang imajinatif, yang dipekikkan di akhir kelam masa SMP-nya tersebut menjadi sesuatu yang lebih realistis. Ia harus mengartikulasikan gumam-gumamnya itu menjadi hal yang lebih nyata, lebih renyah jika kita sebut dengan ambisi. Ya, ia membuat daftar ambisi yang harus dicapai selama SMA. Banyak, hingga ia sekarang lupa apa saja isi dari daftar itu Yang pertama –dan yang paling diingat, ia harus cemerlang secara akademis untuk merevitalisasi kebanggaan orang tuanya. Maka, benar saja, sejak awal hingga akhir ia selalu menduduki peringkat pertama. Ini bukan karena ia paham apa yang diajarkan di kelas, sama sekali tidak. Malaikat di setiap sisi pun tahu bahwa hobinya di kelas adalah tidur, bermain game Sonic the Hedgehog, dan bercakap-cakap, jadi wajar saja teori Newton yang sepele atau kaidah Bahasa Jepang yang diajarkan sama sekali tidak ia kuasai. Keunggulannya secara peringkat bisa terwujud karena paradigma strategis untuk mencapai ambisi itu. Karena, dengan menyadari bahwa dirinya bukan sosok yang hobi belajar, ia hanya meningkatkan intensitas belajar dengan melihat nilai pesaingnya yang lain dan menyesuaikannya dengan kesibukan serta kondisi emosi. Ia hanya mempelajari satu hal: menyusun strategi untuk mencapai ambisi.
Ada lagi ambisi-ambisi dan cara ia menyelesaikan hal itu, tetapi akan sangat membosankan untuk diceritakan. Karena itu, mari kita beranjak ke hal lain. Ia adalah seorang pemimpi (atau pengkhayal) sejak dulu hingga sekarang. Masa SMA adalah waktu baginya mengumpulkan mimpinya itu secara kolektif dari satu masa ke masa yang lain. Tanpa sadar perkembangan mimpinya (dalam tahap tertentu lebih pantas disebut cita-cita) yang beriringan dengan pertambahan usianya tersebut menampilkan gradasi dari tahap ke tahap. Begini ilustrasi sederhananya.
Semasa SD ia bercita-cita menjadi Spiderman, SMP ia bercita-cita menjadi orang terkaya di planet bumi, dan semasa SMA ia bercita-cita menjadi ilmuwan independen yang membiayai penelitiannya sendiri. Dari hal itu, ia melihat dengan jelas bahwa utopianya semakin lama kian menurun ke bumi. Semakin “masuk akal” di satu sisi, namun semakin “kecil” di sisi yang lain. Akhirnya, hadir satu momen yang menjadi proses perangkuman utopianya yang baru, dengan mengkolaborasikan poin-poin esensial di masing-masing mimpi tersebut. Menjadi Spiderman adalah mimpi yang berorientasi pada objek karena itu muncul dari kekaguman pengorbanan Spiderman dalam menyelamatkan orang lain. Menjadi insan terkaya sedunia berorientasi pada ruang lingkup, dunia yang besar karena hadir dengan membayangkan kekerenan menjadi “sesuatu yang super dalam lingkup yang super”. Dan menjadi ilmuwan independen berorientasi pada kompetensi personal. Dari ketiga esensi ini, dan dengan masukan tidak langsung dari banyak hal, ia mendapatkan inspirasi redaksional untuk cita-cita utopisnya yang baru: membangun peradaban. Inilah awal ia menjejakkan satu langkah revolusioner dalam hidupnya, bahwa hidup untuk orang lain lebih besar artinya. Maka ia melebarkan sayap mimpi kebermanfaatannya hingga tatanan terluas yang bisa terbayangkan saat itu.
Hal yang menarik, cita-cita besar itu tumbuh di tempat aktivitasnya yang paling intensif: sekolah dengan luas tak lebih dari 2 hektar. Satu keistimewaan yang menonjol dan hanya bisa dirasakan oleh orang-orang di dalamnya adalah komposisi sosial serta citra aktivitas institusi pendidikan yang unik. Dari segi komposisi sosial, sekolah itu diisi oleh orang-orang yang memiliki variansi karakter dalam interval yang luas dan distribusi yang menyebar pada kelas karakteristika itu. Dari segi aktivitas pendidikan, sekolah ini bisa jadi salah satu institusi legal yang paling sembarangan. Anggaplah dari total 8 jam aktivitas sekolah, 6 jam adalah waktu untuk bermain, dan 2 jam sisanya adalah belajar. Berdasarkan survey pribadi, efektivitas dan efisiensi dari waktu 2 jam tersebut kira-kira hanya sebesar 0,8%. Jadi, berapakah waktu belajar yang efektif? Hitunglah sendiri. Ini memang hal yang negatif jika dilihat sekilas. Namun, jika Anda berada di dalamnya, maka ini memberikan segudang hal positif yang berpengaruh bagi hidup Anda, setidaknya itulah yang ia rasakan. Ibarat ompol, semua orang hanya melihat ini basah dan beraroma pesing, tapi hanya dia yang merasakan, bahwa ini hangat. Analogi yang buruk.
Dua hal ini, komposisi sosial dan aktivitas pendidikan yang unik, memberikan porsi yang lebih untuk merasakan pengembangan aspek sosial dalam dirinya. Sejak dulu, ia nyaris tidak pernah terikat secara sosial oleh masyarakat manapun. Masa SMA ini memberikan dia kesempatan dalam proporsi yang besar. Persebaran karakteristik sosial yang bervariasi serta waktu interaksi yang lebih besar itulah yang mengukir pemahamannya secara sosial. Ia jadi lebih bisa mencicipi pergaulan dengan komponen sosial yang bervariasi dalam durasi yang panjang. Hal ini menjadi tempaan ia untuk menajamkan instingnya untuk memandang sosial secara berbeda kelak.
Menurutnya, teramat banyak hal-hal mendetil di SMA ini yang sulit untuk diceritakan. Secara sederhana, ia merasakan sejuta hal baru disini. Masa SMA adalah kali pertama ia berbicara di depan publik, kawan-kawannya menilai ia telah terbiasa dengan hal itu, namun, percayalah, kakinya gemetaran hebat hingga kali ketiga ia berhadapan dengan publik. Masa ini, secara organisasional dan sosial, adalah masa awal sejarah kepemimpinannya dimulai. Sebelumnya ia tidak pernah tercatat, baik secara formal maupun tidak, sebagai pemimpin. Ia tidak dominan, tidak berpengaruh banyak, dan tidak aktif berorganisasi. Jika sebelumnya ia disibukkan dengan dirinya sendiri, kini orang-orang sekitarnyalah yang memberikan kesibukan. Ia tercatat sebagai pemimpin secara struktural dalam beberapa organisasi. Bahkan, ia pernah menjabat sebagai ketua organisasi kesiswaan tertinggi sekaligus ketua organisasi olahraga terbesar sekaligus dalam satu waktu, itu pengalaman yang baru dirasakan oleh ia seorang. Ia cukup mendominasi dalam pergaulan. Inilah yang membuat kepemimpinan yang kelak berharga dalam tahapan selanjutnya dibiakkan secara massal.
Emosi dan kompetisi juga mewarnai kesehariannya dalam tingkat kedewasaan yang lebih tinggi. Ia berkompetisi dalam akademis, olahraga, pesona, citra, hingga hati. Emosi dalam definisi yang ia perluas kembali dirasakan dalam nuansa yang kental. Kepala batunya tetap keras tak terpecahkan. Ditambah tiga hal bermakna lainnya, tentang ambisi, cita-cita, serta kepempinan, memajukannya pada garis progresif yang belum pernah tercapai sebelumnya.
Perguruan Tinggi : Kompilasi Diri
Tidak sedikitpun detik dalam hidup yang terbuang percuma. Karena Allah terlalu sempurna untuk menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Setiap momen pasti memiliki arti tersendiri. Koleksi detik demi detik itulah yang mengkonstruksi citra aktual seseorang. Setiap momentum memberikan sumbangsih berupa goresan warna, atau sekadar titik, bagi lukisan diri manusia dalam kanvas kehidupan. Begitulah adanya, maka perjalanan panjangnya dari lahir hingga sekarang membangun satu wujud yang merupakan kompilasi dirinya secara menyeluruh.
Sanjungan sosial atas secuil kelebihan dalam dirinya sedikit banyak mengalir, sama seperti dahulu kala. Janganlah heran mengapa ia sangat impulsif dalam kompetisi dan mudah terikat secara emosional kepada suatu benda atau manusia (secara majemuk maupun tunggal) karena masa lalunya mengajarkan demikian. Ia kepala batu, dan akan selalu begitu. Ia ambisius, memiliki cita-cita yang terukir kokoh, dan kaya akan hasrat kepemimpinan. Masa kini mengajarkannya tentang pematangan spiritual, bahwa di atas segalanya, spirit yang dewasa menjadi pengendali terbaik atas segala macam potensi.
Ia tengah menjalani masa perkuliahan formal di Institut Teknologi Bandung, Program Studi Biologi, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati. Minatnya dalam Biologi adalah hasil dari impuls metode mengajar memukau seorang guru bimbel. Di tengah perjalanan minatnya meluas ke berbagai ranah. Karena direkomendasikan oleh seorang teman, ia mempelajari filsafat dan langsung menyukainya. Secara tidak langsung, hal itu menyulut minat lain di bidang sosiologi, politik, dan lain sebagainya. Ekologi adalah satu-satunya cabang dalam keilmuan Biologi yang ia jalani dengan hati. Karena minat-minatnya itu, ia lebih banyak melakukan aktivitas dalam masyarakat, untuk mengasah kapasitas kepemimpinan dan jiwa sosialnya. Dengan alasan yang sama, kini ia berada dalam Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Strategis (PPSDMS) Nurul Fikri.
Berada di tengah masyarakat yang hangat dengan kesadaran penuh akan potensi diri dan sosial adalah sebuah kenikmatan. Dimanapun ia berada, kampus, asrama, rumah, sekolah, pinggir jalan, ia selalu mencoba memandang sesuatu dalam dimensi yang multi-interpretasi. Manusia, hewan, tumbuhan, udara, gelombang, dan lain sebagainya selalu memberikan pelajaran tentang berbagai macam hal. Ia hidup sebagai seorang pencinta, yang mencintai manusia, waktu, kehidupan, idealisme, dan dirinya sendiri. Itulah kompilasi dirinya. Bahwa pematangan emosional di masa SD, intelektual ketika SMP, dan sosial semasa SMA, menjejakkan langkahnya pada proses pematangan spiritual yang belum lama ini dimulai. Proses pematangan yang sejak dulu dimulai terus menerus berproses, laksana anggur Pinot yang tumbuh.
Ia bertransformasi, dari seorang yang pendiam menjadi (terlalu) banyak bicara, dari seorang pemalu menjadi sedikit pandai bergaul, dari seorang lemah menjadi atletis, dari seorang yang soliter menjadi lumer. Proses transformasi itu berlangsung dua dekade. Dan di tengah refleksinya sekarang, ia sungguh menyadari jauh dirinya dari kesempurnaan. Maka, masih banyak hal yang harus dia ubah. Seperti yang agamanya ajarkan untuk senantiasa progresif, itulah yang ia perjuangkan. Petualangan-petulangan lain yang akan mewahyukan sejuta hikmah ia nantikan dalam perjalanan ke depan. Satu hal selalu ia yakini, untuk selalu berjuang menjejakkan langkah menata bangunan peradabannya sendiri. Setidaknya, ia telah memulai semuanya dalam bentuk refleksi diri, yang tanpa sadar menyiratkan hal tentang perjuangannya telah yang dimulai sejak dulu dan akan berlangsung hingga ajal menjemputnya nanti.





[...] Ringkasan Petualangan: Autobiografi [...]
Oleh: Refleksi Dua Dekade « Jejak Tentara Berkuda on Desember 31, 2009
at 12:26 pm
Lama tidak berkunjung. Dan jadi speechless.
Sangat banyak “kepala batu”, ya? Tapi rasanya saya cukup mengerti.
Tuan Kepala Batu.
Oleh: amy on Januari 2, 2010
at 9:05 pm
ada yaa, di pelosok nun jauh terdalam merangsek lebih jauh pondkungu kedalam, ditengah rawa dan sawah dan juga perumahan yang tak terpikir berapa harga sewanya sebab sangat jauh dari mata. ternyata ada anak asuh pak kusnaedi, ponidjan, polo yg punya kekuatan berbahasa sangat mempesona.. zaadakallahu hirsy kawan..
Oleh: Rizki Aji on Januari 6, 2010
at 5:17 pm
Alhamdulillah. Terima kasih atas kunjungan dan respon positifnya..
Oleh: Pembela Kebenaran on Januari 9, 2010
at 8:58 am
wah…akhirnya tamat juga…
panjangggggggg…..
dan agak bosan di akhir…hihihi….
mau berkomentar lain yah tapi ntr aja ah..ngajak pasukan dulu…
hihihi…
GANBATTE!!!!
Oleh: Nadia Juli Indrani on Januari 9, 2010
at 1:18 pm
hiiiiiiiiiiiii
Oleh: sang jotter on April 15, 2010
at 12:04 pm