Oleh: Pembela Kebenaran | Oktober 31, 2008

Cuma Komentar

Hm, saya terlibat dalam diskusi yang sangat menyenangkan dengan Bapak M Shodiq Mustika. Awalnya, saya mengomentari sebuah tulisannya tentang Nabi Muhammad pun pernah pacaran (tetapi secara islami). Dan beliau menanggapinya dengan sangat indah. Lalu, saya juga ingin menanggapi kembali. Akan tetapi, karena tanggapan saya cukup panjang, saya terpaksa membuatnya dipostingan ini. Kepada Bapak Shodiq, mudah-mudahan tanggapan saya bisa bermanfaat:

Bapak memberikan saya dua pertanyaan ini:

1. Apa kau punya data lain (yang ilmiah) mengenai “definisi pacaran yang memang berlaku di masyarakat umum”?

2. Apakah kau punya data obyektif mengenai efek buruk istilah ini?

Jawabannya: Ya, saya punya.

Saya melakukan observasi berupa pengamatan lapangan dan survey yang dilakukan terhadap puluhan responden berusia 19-21 tahun. Tapi, sebelum saya memberikan hasil observasi saya, saya ingin berkomentar tentang satu hal dari tulisan “Ciuman: PR untuk penentang pacaran Islami”. Kita mulai dari hal yang paling mendasar: definisi. Sebenarnya, apa definisi “mendekati zina” yang Bapak maksudkan? Masalahnya, jika kita ingin mengaitkan dengan apakah pacaran itu mendekati zina atau tidak, maka kita harus tahu hal-hal seperti apa yang disebut “mendekati zina”. Jika aktivitas-aktivitas yang mendekati zina hanya seperti ciuman dan persenggamaan, maka data yang Bapak berikan valid dan tidak bisa dibantah. Karena sejujurnya kita masih bisa berbangga terhadap kultur ketimuran yang cenderung santun yang masih cukup melekat dalam budaya kita, sehingga, ciuman dan seks bukanlah hal yang mudah dilakukan bagi sepasang sejoli yang belum terikat pernikahan. Nah, karena itu, saya mencoba menurunkan standar aktivitas “mendekati zina” itu beberapa tingkat. Salah satunya, yang saya anggap sebagai hal yang mendekati zina adalah berpegangan tangan. Menurut saya, berpegangan tangan termasuk perilaku yang mendekati zina. Banyak dalil yang menyebutkan bahwa pria dan wanita yang belum muhrim diharamkan bersentuhan. Saya melakukan survey terhadap puluhan muda-mudi yang pernah atau sedang menjalankan aktivitas pacaran dengan sebuah pertanyaan: Apakah Anda pernah berpegangan tangan dengan pacar Anda ketika Anda berpacaran. Hasilnya cukup mengejutkan: 100% menjawab pernah. Dan, seorang responden memberikan jawaban yang sangat konklusif: “Ya pernah lah, sering malah. Pegangan tangan itu bisa dikatakan hal yang wajib dalam pacaran, karena dengan begitu kita bisa ngerasain kenyamanan tersendiri.” Ini data pertama saya.

Lalu, yang kedua, saya melakukan uji dengan memberikan pertanyaan “apakah yang pertama kali terbesit di pikiran Anda ketika mendengar kata ‘pacaran’?”. Dan, lagi-lagi, hasilnya cukup baik sebagai data referensi saya. Sebanyak 50% responden menjawab bahwa istilah pacaran identik dengan hal-hal yang negatif, bahkan sangat negatif seperti pegangan tangan, berdua-duaan, cara pelampiasan nafsu, hingga ciuman dan zina. Sebanyak 28,13% responden memberikan jawaban yang cenderung negatif seperti nge-date bareng, seneng-seneng, eksotis dan sejenisnya. Lalu, hanya sebanyak 9,3% responden yang memberikan jawaban dengan tendensi positif seperti menyenangkan, asyik, dll. Dan hanya 12,5% responden yang memberikan respon positif seperti masa-masa ta’aruf, atau metode ta’aruf jaman sekarang. Jika kita jumlahkan, maka responden yang memberikan persepsi negatif terhadap pacaran sejumlah 50% + 28,13% = 78, 13%, sedangkan yang positif hanya sejumlah 9,37% + 12,5% = 21,87%. Data-data di atas, beserta jawaban yang saya sisipkan sama sekali tidak dimanipulasi. Responden yang dipilih pun heterogen, tidak hanya yang “putih”, tapi juga yang “abangan” dengan komposisi yang seimbang. Ini data kedua saya.

Dua data ini saya berikan untuk membuktikan bahwa sebenarnya definisi pacaran yang berlaku di masyarakat adalah hal-hal yang memiliki konotasi negatif, dan tentunya memberikan dampak yang negatif. Semoga data ini bisa menjawab pertanyaan Bapak tadi.

Tapi, saya ingin mengingatkan, bahwa saya tidak ingin mengkonfrontasi ide pacaran islami yang Bapak angkat. Silahkan saja jika Bapak berpendapat demikian. Toh, Bapak menawarkan sebuah solusi yang metodis supaya orang-orang bisa terhindar dari pacaran dan masuk ke pernikahan, dan itu (hanya di bagian itu) sangat baik. Saya hanya ingin mengkritik penggunaan istilah “pacaran” tadi. Yang saya angkat sejak kemarin, dan semoga jadi perhatian Bapak adalah: kekhawatiran saya atas persepsi parsial orang-orang yang membaca tulisan Bapak. Bapak adalah da’i dan penulis yang memiliki pengetahuan Islam yang sekiranya tidak perlu diragukan lagi. Dan tulisan-tulisan yang Bapak tulis, akan menjadi referensi paradigma bagi banyak orang. Bagus jika mereka mengambil hal-hal yang baik. Tapi, bagaimana jika mereka mengambil bagian-bagian yang buruk akibat dari pengambilan intisari secara parsial? Maka, tujuan Bapak yang menghindarkan mereka dari jurang pacaran jahiliyyah justru malah tidak tercapai dan akan terjadi yang sebaliknya. Mereka akan tambah kuat terjerumus di jurang pacaran jahiliyyah, karena mereka menemukan sebuah landasan kuat yang membuat mereka bisa berkata “Yeah, ada ustadz yang ngebolehin pacaran!”. (Dan seperti data yang saya ambil, istilah pacaran yang berlaku di masyarakat adalah hal-hal yang negatif).

Saya menuliskan ini dengan memandang subjektivitas saya sebagai pembaca. Hal pertama yang terlintas saat saya membaca tulisan Bapak adalah “Wah, kacau juga nih ada orang yang menghalalkan pacaran!”, walaupun selanjutnya mungkin sebagai orang yang mencoba terbuka saya menjadi sedikit maklum dengan alasan Bapak berpendapat demikian. Tetapi, saya sangat khawatir jika orang-orang “abangan” membaca dan tidak mendalami lebih lanjut, sehingga mereka bukannya mengambil kesimpulan “pacaran islami ternyata boleh”, malah “pacaran islami ternyata boleh”. Saya tahu bagaimana bagaimana pola pikir orang yang berpacaran, karena saya menjalani banyak waktu saya sebagai orang-orang seperti itu. Jadi, sekiranya Bapak bisa mempertimbangkan penggunaan istilah pacaran tersebut atau, setidaknya, dengan selalu memberikan penegasan yang benar-benar jelas apa itu pacaran yang Bapak maksudkan. Karena, menurut data saya tadi, definisi pacaran adalah hal-hal yang negatif. Dan terasa aneh rasanya jika Bapak membuat definisi pribadi dan mengembangkannya sebagai ide-ide umum, sedangkan orang lain masih menggunakan paradigma umum dalam mempersepsikannya. Jadi, dengan data-data di atas, sejujurnya saya kurang setuju atas tulisan bapak yang menyarankan orang untuk berpacaran.

Sebagai penutup, saya hanya ingin mengulang apa yang saya ucapkan pada komentar sebelumnya.

Sesungguhnya kita tahu bahwa manusia hanya mencoba berfikir sesuai dengan kapasitas intelektualnya, maka semoga Allah, sang pemilik segala intelektualitas tanpa batas, sang mahatahu atas apapun yang bahkan tersembunyi, mengampuni saya jika terdapat kesalahan dan kekurangajaran pada komentar ini. Semoga Allah menjauhi kita, saya, Anda, dan semua pembaca, dari segala macam prasangka..


Tanggapan

  1. Okeh kawannn…
    mantap kali itu postingan

    yang sangat menginspirasi gwa tentunya,
    dan bisa gwa jadiin alesan kalo ada orang yang terus2an nanya ga bosen2

    “Rin, napa sih lo ga pacaran2 ajah?”

    Hoho…
    gwa minta ijin bwat jawab pake postingan lu iyakz?
    biar nampak lebih intelek, dan sangat bijak….
    supaya mereka ga terus2an nanya kalo gwa jawab, “yah, ga aja.” simple answer yang bagi orang2
    “sok mistis lo Rin…”
    hoho

  2. Oia, gwa juga mw bilang, gwa udah liat blog temanmu Jundurrahman.
    Yang bagi gwa itu tulisan BAGUS BANGET!
    saking bagusnya otak gwa kagakl kuat nampung….
    Sekali lagi kawan, kapasitas ruang otak gwa limited edition (gwa ga bilang gwa bego ya…hehe…gini2 masih ciptaan Allah chuy!!!)

    Tapi itu tulisan akan sering2 juga gwa liat,
    untuk mengembangkan kapsitas ruang otak gwa,
    dan tentu aja…inspirasi!

  3. borin kamu mah emang mistis da…

    hehe..

    sori geb bales komen arinnya di wp kamu,,hehe..

  4. Tanggapannya menarik. Terima kasih atas keseriusannya.

    Saya mau tanya lagi:
    Apakah observasi terhadap puluhan responden itu tergolong ilmiah? (Lembaga akademis manakah yang mengakui keilmiahannya?)

    Catatan:
    Makna “mendekati zina” sudah beberapa kali kusampaikan. Kau dapat mencarinya dengan mudah.

  5. Jika yang disebut “tergolong ilmiah” adalah observasi yang mengikuti metodologi ilmiah, maka saya bisa bilang bahwa observasi yang saya lakukan tergolong ilmiah, karena metode yang saya gunakan adalah metode ilmiah dengan etika observasi yang sesuai dalam ranah keilmuan.. Tapi saya belum memiliki legitimasi dari lembaga akademis. Toh, itu bukan syarat sebuah observasi disebut ilmiah.

    Menjawab catatan:
    Ya, jika makna mendekati zina yang Bapak sampaikan adalah demikian, lalu mengapa menggunakan data yang menggunakan standar “mendekati zina” yang terlalu tinggi untuk landasan argumen Bapak?

  6. 1) Bagus sekali kau gunakan istilah “menggunakan standar”. Sebab, memang bukan aku yang menciptakan standar/kriteria yang amat ketat (“terlalu tinggi”). Memang penetapan hukum dalam ijtihad itu standarnya amat ketat.

    2) Pertanyaan terpenting: Apakah hasil surveimu bisa digeneralisasikan untuk semua orang dalam segala keadaan ataukah hanya berlaku bagi responden saja pada waktu itu? Apakah semua orang yang pernah/sedang/akan pacaran pasti “mendekati zina” seperti para respondenmu itu?

  7. Dariel Huff pernah menulis sebuah buku yang memukai, How to Lie with Statistic, bagaimana berbohong dengan statistik. Melalui buku ini, Huff menunjukkan bahwa statistik bisa–atau malah kerap kali–menjadi alat berbohong kepada publik yang sangat efektif. Sebagian lagi, statistik berbohong karena peneliti tidak cermat menganalisis. Peneliti gegabah mengambil kesimpulan. Tidak mencoba menyelami lebih jauh, apa yang ada di balik fakta.

    Huff, kemudian menunjukkan berbagai peluang kebohongan. Kalau tidak hati-hati, kita bisa keliru menggunakan data. Kita telan mentah-mentah data yang disajikan beserta kesimpulannya. Padahal, banyak masalah yang perlu kita cermati lebih lanjut. Banyak pertanyaan yang harus kita ajukan secara cerdas.

    ——-
    Untuk penjelasan lebih lanjut, lihat artikel “Cerdas Menggunakan Data by Mohammad Fauzil Adhim

  8. Wah, terima kasih atas referensinya.

    Hm, jika itu berlaku pada data saya, maka itu juga berlaku pada data yang Bapak ajukan, kan? Karena tidak ada jaminan bahwa jika “saya” yang melakukan observasi, data yang didapat menjadi tidak valid. Dan tidak ada jaminan juga jika data yang “Anda” ajukan lebih valid daripada data saya. Bila data yang saya dapatkan bisa disebut alat-bohong-publik-yang-efektif, maka data yang Bapak gunakan juga bisa saja begitu, bukan? Toh, saya melakukan observasi hingga mendapatkan kesimpulan demikian bukan dengan cara sembarangan, melainkan melewati berbagai pertimbangan-pertimbangan ilmiah, mulai dari pemilihan responden yang acak sekaligus terklasifikasi, hingga pengolahan data yang sesuai dengan metodologi ilmiah.

    Daripada kita berdebat dengan tendensi oposisi yang dibias-biaskan, bagaimana jika kita mengadu data? Sebagai penjawab pertanyaan “Apakah semua orang yang pernah/sedang/akan pacaran pasti ‘mendekati zina’ seperti para respondenmu itu?” yang Bapak ajukan, saya berani mengatakan “Ya, ini bisa berlaku hampir di segala tempat (walaupun memang selalu ada pengecualian dalam statistik)”. Jika tidak percaya, Bapak bisa mencoba melakukan observasi sendiri. Lalu, saya ingin mengajukan pertanyaan balik:

    1. Apakah Bapak memiliki data (yang tanpa manipulasi) untuk menyalahkan data yang saya punya?

    NB: Uji hanya bisa diperuntukkan bagi yang pernah atau sedang. Karena observasi atas sebuah “akan”, tidak bisa menjadi data yang valid.

  9. sudahlah sudah,
    nanti yah arin kasih buku metodologi penelitian supaya bisa tau data valid atau ga valid kaya apah yah…
    pusink dah gwa…

    oia,
    arin bukan orang cirebon,
    tapi kemaren teteh arin sempet tinggal di cirebon jadi pernah maen kesana aja, gitu deh…

  10. wa..rame ni..

    geb sekalinya nulis nama panjang salah..

    Nadia Juli Indrani ya geb,,hehe,,ayo ganti..

    oia geb kayanyawaktu itu aku salah ngasi nama wp yang bener nadzzsukakamu.wp.com bukan nadzzanehtapilucu.wp.com ganti ok!!

  11. Assalamu’alaykum warahmatullah

    Menarik akhi.. :) . Menyempatkan waktu untuk melakukan “pembuktian” yang sebenarnya tidak memerlukan bukti (terkait pacaran = zina).

    Untuk berdiskusi secara sehat memang perlu ada penyamaan presepsi atas istilah, guna menghindari “debat-kusir” yang tidak ada ujungnya. Seperti pada makna “zina”. Bagaimana Rasulullah SAW menjelaskan tentang zina dan hal2 yang termasuk mendekati zina, bagaimana para ulama menjelaskan tentang zina dsbnya… tiba2 datang orang masa kini membawa2 nama Rasulullah SAW, dan para ulama yang hanif tersebut membawa kabar tentang perkara zina yang justru berbeda dengan apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW dan para ulama, seolah2 propaganda idenya tentang pacaran yang sangat-sangat prematur itu “dianjurkan” oleh Allah SWT, Rasulullah SAW, dan para ulama tersebut, na’udzubillah. Padahal murid-murid para ulama itu sampai saat ini tidak ada yang mengajak-ajak umat untuk “pacaran islami” atau yang sejenisnya..apalagi dianjurkan Allah SWT dan dipraktekkan oleh RasulNya, na’udzubillah.

    Secara “niatan”, kita patut acungi jempol, tidak ada yang membantah “niatan” pak Shodiq(yang ingin mengarahkan pacaran jahiliyah kepada pernikahan) sebagai niatan yang tidak baik, tetapi seyogyanyalah secara arif, bijaksana dengan penuh sikap hati-hati menyampaikan setiap bahasan itu dengan kebenaran, tidak asal dan terkesan kuat dipaksakan, serta siap meralat ketika jelas-jelas apa yang disampaikannya itu salah, bukan malah sebaliknya memasang “tameng” pelindung dengan apa saja, bahkan hal-hal yang tidak ada hubungannya pun, dikait-kaitkan.

    Contohnya, seperti pada judul “Nabi Muhammad SAW pun pernah pacaran (tetapi secara islami)”, na’udzubillah. Tulisan itu tidak memiliki dasar yang shahih sama sekali, sehingga sangat jauh untuk dikatakan sebagai tulisan ilmiah, “ndak mudeng”. Wallahu’alam.

    Semoga Allah SWT tunjukkan yang benar itu benar dan yang salah itu salah.

    note: ane copas ya tulisan antum.. jazakallah

    wassalamu’alaykum warahmatullah

  12. [...] Sumbernya disini [...]

  13. [...] ada ulasan yang bagus dari ikhwah kita, akh Gibran Huzaifah, mengomentari tulisan Pak Shodiq. Terkait dengan bagaimana “bermasalahnya” istilah, [...]

  14. menarik mba’, semangat euy…

    cm ngasih saran mba’, om shadiq comment2 dr om shadiq gak usah ditanggepin, namanya jg om-om kesepian…

    ati2 lo sm om-om kesepian kayak gitu, bs2 dia ngajak debat sm mba’ coz ad feel sm mba’.

    serem mba’,jgn mau sm om-om.

    sori mba’, klo commentku terlalu kasar

  15. Maaf, saya mas2, bukan mba’2.
    Terima kasih.

  16. hehehe..
    mba’ numpang komen ya mba…hehehe..

  17. Assalamu;alaikum,

    Hmm… cari – cari tanggapan konsepsi pacaran yang didefinisikan secara subyektif individu memang menarik.
    Namun, yang saya hendak cari adalah konsepsi yang menggunakan metodologi Ilmiah. Yang dimana pertanggungjawabannya baik secara empiris dan rasional teruji dengan kuantitatif atau kualitatif.

    namun yang akhi tulis bersifat metodologi kuantitatif (berdasarkan banyaknya responden yang berpendapat). Kalau akhi punya referensi data yang bersifat metodologi kualitatif, saya akan berterimakasih sekali bila akhi mau berbagi.

    metodologi yang kualitataif pada gambaran saya mungkin ada perndekatan empiris yang sifatnya objektif, bukan subyektif individu.

    karena bila subjektif individu bisa-bisa terjadi manipulasi data yang disangka oleh Bpk. Shodik.

    Hmmm…
    dan saya tekankan perbedaan itu merupakan rahmad. berbeda pendapat boleh. . .
    asalkan orientasinya untuk kebaikan dan memiliki etika dan objektifitas antar kedua belah pihak. . .

    arigatou gozaimasu


Beri tanggapan

Your response:

Kategori