Dosa Pendidikan Indonesia

Ayo kita berkaca. Ayo kita buka mata. Ini nyata, hanya di Indonesia. Negara yang birokrasinya super lama. Negara yang penduduk miskinnya makin banyak. Negara yang orang bunuh dirinya rata-rata lima orang setiap harinya. Negara yang kriminalitas dan tindakan asusila mulai merambah kemana-mana. Negara yang, padahal belum maju, tapi mulai memundur. Ini Indonesia.

Banyak masalah di Indonesia. Semua pasti setuju. Dari segala aspek, ekonomi, politik, sosial, budaya, hankam, dan yang lainnya, memiliki banyak masalah. Dan masalah ini disebabkan oleh dua hal besar, kelemahan sistem dan kelemahan manusianya. Tapi dua hal ini bisa kita kerucutkan lagi menjadi satu masalah: kelemahan manusia, karena sistem juga di buat manusia kan? Dan sadar gak sih kita, kalau kelemahan-kelemahan manusia ini adalah hasil dari akumulasi kesalahan sebuah sistem pada satu aspek kehidupan? Pendidikan. Ya. Masalah utama kita adalah lemahnya sistem pendidikan. Inilah dosa pendidikan Indonesia.

Sistem pendidikan di Indonesia hanya mencanangkan kecerdasan di otak kiri. Coba aja perhatiin kurikulum dari SD, sampai SMA. Semuanya, semuanya, menonjolkan kecerdasan otak kiri. Dan ini selalu sama dari dulu sampai sekarang. Dari mulai kurikulum tahun 1994, revisi tahun 1998, kurikulum berbasis kompetensi, sampai kurikulum tingkat satuan pendidikan yang sekarang lagi eksis, semuanya hanya memberikan stimuli untuk pengembangan otak sebelah kiri. Otak kiri adalah otak yang berpengaruh besar dalam kecerdasan intelektual. Otak ini merangsang pemiliknya untuk berpikir dan bertindak secara rasional. Ini emang bagus, bagus banget malah, tapi kalau hal ini gak diimbangi dengan kecerdasan otak kanan yang cenderung ke emosional dan spiritual, maka hal ini akan sangat berbahaya. Mau contoh? Okey, ini dia contohnya.

Buat yang sering nonton tipi, pasti tau dong yang namanya geng nero? Yak, ini adalah geng kumpulan cewe-cewe SMA yang suka bertindak anarkis kepada teman sebayanya. Geng ini bertindak adikuasa, dan menyiksa secara fisik kepada orang-orang yang dianggap lemah. Nah, geng ini adalah buah dari kurikulum-otak-kiri. Para wanita geng nero itu melakukan tindakan premanisme karena terpengaruh oleh sinetron dan film-film di tipi. Tapi kita gak perlu nyalahin acara-acara itu, karena acara kayak gitu emang sepenuhnya salah. Mari kita cari bentuk lain. Mereka berlaku seperti itu karena mereka berpikir secara rasional, ini mutlak. Apa yang mereka liat dari tipi, kemudian segera dirasionalisasikan dan diaplikasikan. Lho? Emang semuanya kaya gitu kan? Enggak, enggak semuanya, apalagi untuk ukuran siswi SMA kaya mereka. Mereka yang udah dewasa sewajarnya gak langsung merasionalisasikan hal macam itu, seandainya… nah, sekarang kita maen andai-andaian. Mereka gak akan melakukan itu seandainya mereka diimbangi dengan kecerdasan emosi dan spiritual. Kalau aja mereka mapan dari segi dua kecerdasan itu, mereka akan punya pertimbangan dari segi kemanusiaan dan ketuhanan, dan pertimbangan ini, menjadi alasan kuat untuk mereka gak ngelakuin hal itu. Begitulah. Tapi ini cuma salah satu dampak negatif yang kecil dari kurikulum-otak-kiri, masih banyak lagi dampak yang lebih besar. Terutama dari tindakan yang amoral. Sekarang mari kita flashback ke puluhan tahun yang lalu. Waktu ikut latpim kemarin, saya diceritain suatu hal tentang anak ITB jaman dulu oleh seorang pembicara. Beliau bilang “Dulu, di sebuah tempat prostitusi yang terkenal di Bandung, saya lihat, mahasiswa-mahasiswa ITB adalah pengunjung yang paling banyak disana.” Nah, kan, bisa diliat contohnya. Kita semua tahu kalau mahasiswa-mahasiswa ITB adalah mahasiswa yang paling rasional se-Indonesia. Dan kita tahu bahwa ITB adalah institusi yang sangat menonjolkan kecerdasan otak kiri. Dan liat hasilnya. Alasannya sama dengan geng nero itu. Mereka, orang-orang dengan kecerdasan otak kiri yang tanpa diimbangi kemapanan otak kanan, akan tidak memiliki pertimbangan yang nuraniah dalam setiap masalah yang mereka hadapi. Dan ini bahaya, sangat bahaya. Para koruptor-koruptor yang menghisap uang rakyat itupun juga melakukan korupsi karena mereka gak cerdas secara emosi dan spiritual. Begitu juga para pelaku kriminal. Inilah yang kita butuhkan. Inilah yang pendidikan kita butuhkan: keseimbangan otak kiri dan kanan.

Ternyata eh ternyata, pendapat saya ini disetujui oleh para pakar dan pengamat pendidikan, kaya kak seto dan psikolog di AFI (lupa namanya). Mereka juga menyatakan hal yang demikian. Jadi, langsung disimpulkan aja, ini yang harus kita semua lakukan. Membenahi sistem pendidikan, secara keseluruhan, baik dari segi infrastruktur maupun dari segi kurikulumnya. Kita harus benahi ini, benar-benar harus kita benahi. Sebagai mahasiswa, ayolah demo untuk ini, demo halus untuk ini. Bukan untuk yang lainnya. Ini yang urgent lho. Dan satu kritik lagi, sistem UN dengan standar yang sekian sebenernya gak terlalu tepat, karena para siswa hanya akan berpikir untuk belajar hanya untuk UN, dari kelas satu malah. Mereka jadi UN-oriented deh. Ini gak bagus, apalagi bentuk soal dan pelaksanaannya yang malah membuat mereka jadi orang yang pragmatis. Mungkin segi keilmuan harus ditingkatkan lagi deh, jadi UN bukan cuma soal-soal yang bisa diselesaiin make rumus, tapi hanya bisa di selesaikan dengan pemahaman konsep yang mendalam. Dan untuk menghasilkan lulusan yang andal, kayanya pemerintah harus ngadain tes emosional-spiritual tadi, gimanapun bentuknya.

Ah, Gibran, hanya bisa komentar. Hanya bisa komentar.

PS: Untuk teman-teman SMA manapun yang tiga tahunnya dihancurkan hanya karena tiga hari, sabarlah, Allah Mahatahu apa-apa yang ada di muka bumi ini. (walaupun SMA saya lulus semua).

10 thoughts on “Dosa Pendidikan Indonesia

  1. bang gibran,
    keahlian menulis yang semakin hari semakin lebih baik,perlu diacungi jempol…hehe
    adu mav, terlalu kaku ye..^^

    jujur bran, wacana yg lw tulis mirip dgn apa yg gw diskusikan ((diskusi yg tak jelas asalusulnya tapi akhirnya mempunyai solusi yg cukup inspiratif; terjadi dengan teman asrama dulu;di padang))

    hal yang cukup menarik, sampai hari ini, keinginan kita, solusi kita bisa jadi blueprint pemerintah,hehhe,,,tapi gw gak bisa kasih tau itu apa..untuk sekarang ini..hehe mav..
    sampai saat ini fungsi otak kiri masih dipisahkan dengan fungsi otak kanan,,mengapa??
    karena, kita ternyata belum menyadari bahwa semua itu berasal dari “Yang Satu”…
    misal, aktualisasi agama terpisahkan dg aktualisasi di lingkungan kerja…
    seandainya saja profesor odie (amien..) menemukan satu langkah penting metoda pembelajaran kolaborasi otak kiri dan kanan, dan dijadikan suatu blueprint pada kepemerintahan kita…
    haaah, itu cuma mimpiku… yang terpenting sekarang dari diri masing2 mencari dan terus belajar mengaktualisasikan bagaimana cara menkolaborasikan nikmat Allah yang tak hingga ini…

    terus cari solusi temanku, bukan hanya kritik atau paparan,,,

    thx,,,ur closefriend…oddie

  2. Saya sbg seorang mahasiswa mengakui pendapat anda sbg pendapat kritis n satu jempol buat anda!? Ayo demo,hidup mahasiswa!! Tetapi banyak org yg mengajukan pendapat hanya menilai yg nampak di mata saja. ini dikarenakan otak mereka yg hanya berfikir “dangkal”. Sebenarnya sistem pendidikan di indonesia telah sempurna,tentang EQ dan ESQ itu tidak didapatkan sepenuhnya di sekolah tetapi orang tua dan lingkunganya lah yg memenuhinya.. Jika pendidikan nonformal mengenai ESQ ada dan baik,maka makin sempurnalah sistem pendidikan kita.
    Thank’s

  3. @Nando Fernandez: Terima kasih atas komentarnya. Jika kita bicara “Sistem Pendidikan”, maka yang dimaksud adalah pendidikan formal, karena pendidikan keluarga yang non-formal bukanlah sesuatu yang sistemik dan bisa direkayasa, krn itu saya katakan sistem pendidikan kita tidak ideal. Lagipula, sebuah kritisisme sistemik hanya diperbolehkan untuk sebuah tataran yang telah tersistem, karena itu, untuk pendidikan keluarga dirumah, sebenarnya tidak trlalu kontekstual dengan “Sistem Pendidikan Indonesia”..

  4. hmm,, demo bisa dilakukan untuk mengggugah kesadaran para birokrat akan keadaan yang sesungguhnya,, tapi benarkah akan menggugah pendidik anak2 yg sesungguhnya, a.k.a. orang tua masing2?? ya, qta mulai dari keluarga kita (lho? keluarga kita? keluarga yg mana ni? hhe) yaa, intinya klo birokrat mengiyakan tapi orangtua masih saja cuek dengan keadaan pendidikan anak2nya akan percuma saja,, oleh sebab itu, nikahlah kepada orang yg bervisi sama untuk membangun generasi inisiator pendidik bangsa ini.. hhe nyambungnya malah kesana..

  5. saya stuju, bgaimana jika orang itu tinggi IQ nya tapi tdak mmpunyai kdisiplinan, kethana srta adaptasi pada lingkungan ( EQ ) dan tdak mmiliki moral srta kjujuran ( SQ ) mka akan kita lihat orang pintar mnjadipreman atau otak kejahatan, maka kita akan melihat orang pintar menjadi koruptor, seorang pemimpin yang tidak kewibawaan dan sebagainya????????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s