Oleh: Pembela Kebenaran | November 4, 2010

Sepakbola Tunggal Ika

Pasca kekalahan telak dari Uruguay, Timnas Indonesia membayar kekecewaaan publik dengan kemenangan 3-0 atas tim Maladewa Selasa (12/10) kemarin. Sayangnya, kemenangan tersebut tercoreng oleh ulah penonton. Kali ini bukan anarkisme yang sudah sering dilakukan, melainkan hal lain yang lebih primordial.

Di tengah pertandingan yang diadakan di stadion Siliwangi Bandung  itu, alih-alih mendukung penuh Indonesia yang sedang berjuang, sebagian besar penonton justru mencemooh Bambang Pamungkas setiap kali ia melakukan kesalahan. Hal ini dikarenakan Bambang adalah pemain Persija Jakarta, klub rival utama dari klub asal Bandung, Persib. Fenomena ini menunjukkan bahwa di tengah keberagaman tim daerah yang bersaing, sepakbola Indonesia belum mampu menunjukkan semangat kesatuan. Masyarakat kita belum bisa menanggalkan atribut rivalitas dan primordialisme demi prestasi bersama tim nasional Indonesia.

Hal ini mengingatkan kita bagaimana dulu di masa awal penjajahan, pejuang-pejuang daerah masih menjunjung tinggi primordialisme dan menihilkan semangat persatuan. Akibatnya, bangsa kita tidak bisa lepas dari belenggu penjajah. Yang ada justru pemerasan dan adu domba antar saudara. Sama halnya dengan persepakbolaan Indonesia. Selama ruh “Bhinneka Tunggal Ika” belum termaknai dalam perbaikan sistem dan prestasi timnas, maka selamanya sepakbola kita akan tercekik oleh penjajahan dalam tubuh kita sendiri. Kita terjajah oleh korupsi dalam internal birokrasi sepakbola, terjajah oleh fasilitas yang minim kualitas, dan terjajah oleh anarkisme dan permainan yang tidak fair play.

Oleh karenanya, hal pertama yang perlu dilakukan untuk peningkatan prestasi timnas adalah proklamasi persatuan sepakbola Indonesia. Setiap komponen yang terlibat dalam persepakbolaan Indonesia, mulai dari pemerintah, birokrat, klub, pemain, pelatih, dan pendukung, harus bersatu padu untuk menyukseskan timnas Indonesia dan menjadikannya pencapaian bersama. Karena, percuma saja jika liga berjalan dan menghasilkan bibit-bibit pemain potensial, tetapi proyeksi utama dari setiap pengembangan bukan untuk prestasi tim nasional. Jika timnas Indonesia ingin membanggakan dan dapat dibanggakan, maka setiap entitas harus menjadikannya sebagai prioritas.

Setiap tim nasional harus memiliki jati diri dan kekokohan historis untuk dapat memecutnya dalam berprestasi di kancah regional dan internasional. Negara-negara benua Eropa memiliki kebanggaan sejarah, bahwa legitimasi akan kelahiran sepakbola di tanahnya membuahkan semangat untuk meraih juara. Negara-negara Amerika Latin memiliki kebanggaan sejarah dengan deretan capaian masa lalu yang menumbuhkan motivasi untuk mempertahankan dominasi. Lalu, apa yang dimiliki Indonesia? Kita memiliki sejarah monumental dulu, dengan menyatukan Nusantara dan mengusir penjajahan dengan penuh kejayaan. Maka, dalam konteks timnas Indonesia, kita dapat menumbuhkan semangat berprestasi dengan menyatukan keberagaman yang kompetitif demi perkembangan sepakbola Indonesia. Sepakbola tunggal ika!

 

Oleh: Pembela Kebenaran | Maret 29, 2010

Penyelamatan Sederhana bagi Lingkungan

Salah satu isu utama yang dibawa pada saat KTT Perubahan iklim di Kopenhagen adalah pemanasan global. Pemanasan global disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah peningkatkan gas rumah kaca di atmosfer. Meningkatnya gas rumah kaca tersebut, terutama karbondioksida, menyebabkan dampak negatif yang kita alami sekarang, seperti perubahan iklim global (global climate change), pemanasan global yang menyebabkan es di kutub mencair, dan lain sebagainya.

Pada dasarnya, hutan sebagai sumber penyerapan karbon dapat menjadi solusi yang menjawab kondisi di atas. Mekanisme yang terjadi pada aliran karbon dalam atmosfer merupakan aliran yang bersifat dua arah; pengikatan CO2 ke dalam biomassa melalui fotosintesis dan pelepasan CO2 ke atmosfer melalui proses dekomposisi dan pembakaran. Diperkirakan sekitar 60 Pg1 karbon mengalir antara ekosistem daratan dan atmosfer setiap tahunnya, dan sebesar 0,7 ± 1,0 Pg karbon diserap oleh ekosistem daratan (Lasco, 2004 dalam Rahayu et al, 2005).

Ironisnya, di tengah kebutuhan hutan yang semakin krusial, deforestasi justru banyak terjadi di Indonesia. Badan Planologi Departemen Kehutanan mencatat, laju deforestasi di Indonesia berkisar 1,6 juta – 2,5 juta hektar per tahun. Jika kondisi ini dibiarkan, maka asset hutan akan habis dalam waktu dekat, dan niscaya efek rumah kaca akan semakin meningkat.

Upaya konservasi hutan merupakan agenda besar utama yang wajib dilakukan oleh pemerintah. Namun, disamping itu, masyarakat juga harus bisa mengambil tindakan nyata untuk mengurangi dampak dari pemanasan global. Tindakan nyata ini dapat dilakukan secara sederhana, yakni dengan menanam dan merawat dengan baik satu pohon hingga besar di pekarangannya masing-masing. Upaya ini memang kecil, tapi dapat berdampak besar jika dilakukan secara serentak.

Untuk lebih jelasnya, mari kita ilustrasikan hal di atas. Anggaplah ada 20 juta rumah yang dapat mengaplikasikan gagasan tersebut. Artinya, ada 20 juta pohon yang ditanam. Kita ibaratkan satu pohon mengisi lahan setiap 1 m2, sehingga ada lahan seluas 20 juta m2 atau 20 ribu hektar yang tertanam pohon.

Berdasarkan data pengujian Kuswatiningsih dkk (2010), estimasi cadangan karbon pada hutan homogen adalah sebesar 92,6 ton/ha. Walaupun tidak bisa menjadi data yang disejajarkan, hal tersebut tetap bisa dijadikan acuan estimasi cadangan karbon yang bisa dihasilkan iika kita secara konsisten menanam dan menjaga minimal satu pohon saja di pekarangan atau di pinggir jalan, yaitu sekitar 1,8 juta ton. Senilai itu pula kontribusi yang akan diberikan bagi lingkungan.

Pada dasarnya, setiap hal besar dimulai dari hal-hal kecil dan setiap tindakan kecil yang disatukan dapat menghasilkan dampak yang besar. Inovasi menanam dan menjaga satu pohon adalah upaya jangka panjang yang kecil dan sederhana. Namun, setidaknya ini menjadi tanggung jawab kita untuk menyelamatkan lingkungan dan mewariskannya ke anak-cucu kita kelak.

dimuat di harian Seputar Indonesia 29 Maret 2010

Oleh: Pembela Kebenaran | Maret 26, 2010

Mencurah lagi saja.

Hm, sudah lama saya tidak menulis hal-hal yang tidak penting. Beberapa bulan terakhir saya selalu menulis essay atau tulisan macam-macam yang (terkesan) penting. Tapi, sudah lama saya tidak menulis hal-hal yang tidak penting semacam ini. Dan pada fase ini, justru hal ini menjadi penting. Sial. Pasti Anda tidak mengerti.

Saya banyak berfikir tentang banyak hal. Tentang bumi dalam skala besar, atau sekadar tentang mengapa choky-choky harganya sekarang mahal. Saya berfikir tentang Tuhan yang absurd, dan tentang materi kuliah yang saya anggap absurd. Saya banyak berfikir ini, itu, anu, bahkan ono. Saya berfikir. Tapi uniknya, ini hal terkeren dari diri saya, bahwa saya terkadang, secara sengaja maupun tidak, melakukan hal yang berkesebalikan dengan apa yang saya pikirkan. Saya kerap kali mengikuti intuisi, dan mengendus intuisi tersebut dengan pemikiran yang rasional. Saya terlampau instingtif, membiarkan intuisi berlari di muka, dan menyerahkan sensor nalar saya mendeteksi kemana ia mengarah. Namun, ternyata hal ini menghasilkan sesuatu yang keren.

Saat ini kaki saya menjejak di tempat dimana kepala saya tidak pernah berfikir untuk sampai di sana, sebelum atau setelahnya. Tapi justru kepala saya me-rewind setiap adegan hingga bagaimanapun saya mencapai tempat ini, saya selalu memiliki alasan yang kuat. Jalan di hadapan saya terang, jelas, nyata, dan mudah. Tapi, saya pun tahu, bahwa setiap organ dalam tubuh saya tahu bahwa dia akan digerakkan oleh otak yang tidak cukup waras untuk menempuh jalan yang sedemikian mudah.

Sepertinya akan sangat sensasional.

Don’t ask what the world needs. Ask what makes you come alive, and go do it. Because what the world needs is people who have come alive.” (Siapa gitu, lupa)

Oleh: Pembela Kebenaran | Maret 9, 2010

Demonstrasi dengan Hati

Kebebasan merupakan hak asasi yang tertanam secara alamiah dalam fondasi hasrat manusia. Sejak dulu, manusia kerap kali berjuang demi kebebasannya dalam banyak hal: berpendapat, beribadah, berkumpul, bertindak, dan lain sebagainya. Sejarah bangsa kita memperlihatkan alur tersebut. Ketika kebebasan adalah barang langka yang berharga mahal, masyarakat berjuang keras untuk memperjuangkannya. Kini, saat kebebasan telah dilindungi konstitusi, masyarakat benar-benar memanfaatkan, namun tak jarang hingga melewati garis batasan.

Demonstrasi merupakan salah satu alat peraga kebebasan berpendapat. Turun ke jalan dengan membawa tuntutan atau ide perubahan dengan leluasa merupakan hal yang elegan. Akan tetapi, hal tersebut juga harus disampaikan dengan metode yang elegan. Jika memang suara rakyat yang dibawa, mengapa infrastruktur milik rakyat yang dirusak? Jika kebaikan yang diperjuangkan, mengapa cara yang dijalankan memberikan dampak keburukan?

Berbicara tentang baik dan buruk, kita harus mampu menilai dan menyelenggarakan demonstrasi secara etis. Dalam konteks ini, demonstrasi patut dipertanyakan dalam aspek motif dan kausalitas. Mari kita pandang gambaran demokrasi mutakhir dalam perspektif etika. Perusakan fasilitas publik dan pemerintah, bentrokan keras dengan kepolisian, pembakaran ban di tengah jalan, pemukulan oknum keamanan, etiskah? Menurut penulis, bukanlah kebebasan semacam ini yang kita idam-idamkan. Kebebasan yang kita inginkan adalah kebebasan yang mendasar, konstrukstif, dan indah, lain tidak.

Untuk itulah, masyarakat perlu membersihkan rupa demonstrasi anarkistis yang selama ini terjadi. Upaya pembersihan ini dapat dilakukan mulai dari hal mendasar. Pertama, dari segi motif yang melatarbelakangi demonstrasi tersebut. Pelaku demonstrasi, siapapun itu, harus mampu mengkaji motif mereka dalam melaksanakan demonstrasi. Apakah memang demonstrasi merupakan hal terbaik untuk menyampaikan aspirasi secara efektif dan efisien, atau memang ada cara lain yang lebih bersahaja.

Kedua, dari segi pengamanan keberjalanan demonstrasi di lapangan. Dalam beberapa kejadian, kerap kali tindak anarkis yang terjadi disebabkan adanya miskomunikasi atau kelpaan pelaksana demonstrasi untuk mengatur suhu aksi agar tetap dalam batasan. Karenanya, motif yang murni tidak cukup untuk menyelenggarakan demonstrasi yang lugas dan damai. Diperlukan perencanaan yang matang serta penataan yang tegas dalam eksekusi di lapangan.

Sejarah membuktikan bahwa demonstrasi merupakan metode yang efektif dalam menyampaikan aspirasi rakyat secara vertikal. Demonstrasi juga pernah menjadi titik awal kebangkitan pergerakan masyarakat secara radikal. Ya, demonstrasi, sebagai sebuah semangat perjuangan memang harus dipertahankan. Akan tetapi, perlu kita ingat bahwa demonstrasi hanyalah satu metode penyampaian pendapat dalam ranah demokrasi. Jika memang sebuah ide bisa disampaikan dengan jalan lain yang lebih halus dan singkat tanpa mengurangi esensinya, maka tidak ada salahnya untuk dilakukan. Pun jika demonstrasi dirasa perlu, maka mari kita perkuat fondasi serta etika pelaksanaannya. Lebih dari itu, mari kita jalankan hal itu dengan hati.

Dimuat di harian Seputar Indonesia edisi 9 Maret 2010

Oleh: Pembela Kebenaran | Maret 4, 2010

Wirausaha Berbasis Teknologi

Upaya pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah yang dilakukan oleh pemerintah menunjukkan hasil yang positif. Berdasarkan data statistik UMKM 2009, Perkembangan jumlah UMKM periode 2007-2008 mengalami peningkatan sebesar 2,88 persen yaitu dari 49.824.123 unit pada tahun 2007 menjadi 51.257.537 unit dari berbagai sektor pada tahun 2008.

Data ini merupakan hal yang sangat penting mengingat kontribusi UMKM yang cukup besar, terutama dalam menciptakan produk domestik bruto (PDB). Pada tahun 2008, peran UMKM terhadap penciptaan PDB nasional menurut harga berlaku tercatat sebesar Rp. 2.609,36 triliun atau 55,56 persen dari total PDB nasional, mengalami perkembangan sebesar Rp. 504,23 triliun atau 23,95 persen dibanding tahun 2007.

Namun, ada beberapa hal yang patut kita tanyakan dari data di atas: seberapa besar daya kesintasan usaha tersebut? Seberapa tinggi nilai jual dari produk yang dihasilkan? Karena, bisa saja, meningkatnya jumlah unit usaha tidak sebanding dengan meningkatnya nilai (value) serta kualitas dari produk yang dihasilkan. Untuk itu, dalam proses usaha terutama produksi perlu ada penambahan nilai melalui proses rekayasa yang melibatkan teknologi tepat guna.

Jiwa kewirausahaan yang berbasis teknologi atau biasa disebut technopreneurship merupakan satu alternatif mutakhir untuk menjawab tantangan itu. Proses pengembangan unit usaha dan produksi dengan memanfaatkan teknologi dapat melipatgandakan hasil sekaligus performa dari unit usaha tersebut. Untuk itu, sekiranya ada beberapa tahapan sederhana yang bisa dilakukan untuk mengembangkan wirausaha berbasis teknologi ini.

Yang pertama, perlu dilakukan sosialisasi sekaligus pelatihan kepada masyarakat terutama penggerak UMKM dalam teknologi yang aplikatif dan multi-producting. Salah satunya, pemerintah bisa menampilkan prototype pemanfaatan limbah-limbah produksi menjadi barang yang bernilai jual. Misalnya, pada unit usaha sektor industri pengolahan pangan, dapat digunakan teknologi vermicomposting sederhana yang mampu mengolah secara alami sampah organik dengan menggunakan cacing untuk menghasilkan pupuk kompos. Metode ini dapat menghasilkan sekaligus produk pupuk dan cacing ternak tanpa menggunakan biaya produksi yang lebih besar. Tahapan ini merupakan penanaman aspek-aspek teknologis di dalam unit usaha.

Yang kedua, dapat dilakukan pengembangan usaha tersebut dengan menggunakan teknologi dalam jaringan, terutama dunia maya. Hal ini dapat memberikan keuntungan dalam meningkatkan kualitas pemasaran dari produk serta memperluas pangsa pasar dari usaha tersebut. Dalam hal ini, diupayakan pengembangan unit usaha tersebut menjadi berlipat-lipat melalui pemanfaatan teknologi.

Pada dasarnya, bangsa yang maju dilihat dari seberapa banyak jumlah usaha yang ada serta seberapa mampu mereka dalam mengakses teknologi. Proses pembentukan wirausaha berbasis teknologi ini merupakan jawaban dari hal tersebut, yaitu untuk meningkatkan akses teknologi dalam masyarakat sekaligus mengembangkan usaha sektor riil yang ada. Semoga pengembangan wirausaha berbasis teknologi ini dapat menjadi salah satu tahapan menuju kemandirian Indonesia.

Diterbitkan di Harian Seputar Indonesia 2 Maret 2010

http://kampus.okezone.com/index.php/ReadStory/2010/03/02/95/308304/95/wirausaha-berbasis-teknologi

Tulisan Sebelumnya »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.