Oleh: Pembela Kebenaran | Januari 9, 2010

SATU YANG TAK SATU

Ini adalah kisah tentang seribu cinta bagi seribu bidadari; aku merekah

Satu sisi Utara adalah kekokohan, dan Selatan adalah kesucian,

Barat adalah ketenangan,dan Timur adalah kebiasaan.

Dan dalam setiap detik-detik pertemuan selalu ada satu:

Hati

Jemari tidak bergetar, hanya nurani yang menyangar,

Jiwa, raga, khayal, terbang terbuai awan-awan dalam jelma pipih.

Bulan dan mentari sama-sama menyinari dalam masing durasi,

Dan dalam setiap waktu-waktu perjengkalan selalu ada satu:

Rindu

Aku tertatih lemas menyanggah diri yang papah,

karena putusan tak berkeharus tanpa malu membuatnya payah

Gelombang tentu kan mengelaborasi ini dalam satu resonansi.

Dan dalam setiap sirkumstansi nyata selalu ada satu:

Harap

Duhai langit nan biru, simpulkan jadi satu.

Oleh: Pembela Kebenaran | Desember 31, 2009

Refleksi Dua Dekade

Pemaknaan merupakan perspektif yang paling berarti dalam memandang suatu hal, yang berwujud maupun tidak. Pembubuhan makna yang berbeda dapat mencuatkan atau mengubur hidup-hidup nilai esensial yang terkandung di dalam entitas tersebut. Sebagian orang memaknai hari lahirnya dengan biasa. Sebagian memaknainya dengan pesta. Dan sebagian lagi memandangnya sebagai momen evaluasi berkala. Saya tidak ingin repot-repot meributkan alternatif dalam memaknai hari lahir saya. Yang jelas, autobiografi ini menjadi salah satu jalan yang saya pilih untuk melampirkan hari ini dengan sedikit pemaknaan. Silahkan menikmati.

http://gibranhuzaifah.wordpress.com/ringkasan-petualangan-autobiografi/

Oleh: Pembela Kebenaran | Desember 17, 2009

GERAKAN ANTI-KORUPSI MAHASISWA

Korupsi merupakan tindak pidana yang menimbulkan kerugian ganda: menguras harta negara demi kepentingan pribadi/kelompok serta mencerabut hak-hak sosial masyarakat secara meluas. Dewasa ini, tindakan korupsi semakin merajalela. Meluasnya korupsi hingga ke tatanan struktural masyarakat yang terendah atau semakin besarnya kuantitas dana yang dikorupsi menjadi peringatan bahwa daya perlawanan terhadap korupsi harus ditingkatkan. Beriringan dengan itu, lembaga yang memiliki otoritas untuk memberantas korupsi secara hukum mulai diperlemah. Kekuatan hukum untuk mengekang korupsi menjadi bias akibat pertarungan yang justru terjadi di badan inter-pranata dalam penegakkan hukum tersebut. Di sinilah dibutuhkan suatu daya sosial yang memberikan aspirasi kolektif sehingga mampu menuntut pemberantasan korupsi secara tegas dan sigap.

Di sisi lain, mahasiswa sebagai generasi muda perlu dipersiapkan sebagai penerus kepemimpinan bangsa. Karena, toh pejabat yang kini bergelimangan harta hasil korupsi bisa jadi dulunya adalah mahasiswa yang berteriak lantang tentang integritas dan keadilan. Untuk itulah, kesadaran dan karakter anti-korupsi harus dibangun melalui pemahaman dan pembentukan budaya masyarakat muda yang secara tegas menjauhi segala bentuk korupsi. Dari internalisasi kultural yang berpengaruh hingga personal, diharapkan mampu membentuk generasi anti-korupsi yang bertahan sejak dini hingga ketika menjabat di kepemimpinan bangsa kelak.

Gerakan Struktural dan Kultural

Dilatarbelakangi oleh hal di atas, perlu dirancang suatu konsep gerakan anti-korupsi bagi mahasiswa Indonesia yang terdiri dari gerakan struktural dan kultural.

1. Gerakan Struktural

Gerakan struktural memiliki kecenderungan yang reaktif terhadap isu dan melibatkan massa dalam jumlah besar dalam pelaksanaannya. Makna “struktural” diartikan sebagai satu komponen di dalam pemerintahan yang memiliki keterlibatan di dalam isu korupsi tertentu. Jadi, gerakan anti-korupsi yang bersifat struktural, berarti memberikan satu aksi atau reaksi terhadap isu tertentu yang ditujukan kepada pemerintah sebagai lembaga yang berwenang dalam penyelesaian isu tersebut.

Tujuan dari gerakan struktural ini adalah: 1) memberikan pernyataan sikap pemuda, 2) memberikan tuntutan tertentu terhadap isu terkait, 3) menampilkan propaganda dan pencerdasan kepada publik, dan 4) menunjukkan daya sosial yang menekankan pada semangat perlawanan terhadap korupsi. Salah satu bentuk dari gerakan struktural ini adalah aksi dan unjuk rasa terkait kasus korupsi tertentu.

2. Gerakan Kultural

Gerakan kultural bertujuan untuk: 1) memberikan pemahaman tentang korupsi dan bentuk nyata anti-korupsi di dalam kemahasiswaan, 2) menciptakan budaya anti-korupsi sejak dini, dan 3) membentuk karakter generasi anti-korupsi. Berbeda dengan sebelumnya, gerakan kultural ini cenderung bersifat aktif, sehingga gerakan yang dilakukan tidak bergantung terhadap isu yang ada. Beberapa model gerakan yang dapat dilakukan pada klasifikasi kultural diantaranya:

  • Propaganda Integritas Akademik

Salah satu bentuk kecil korupsi adalah kecurangan akademik. Untuk itu, sebagai pemupukan budaya anti-korupsi, perlu ditingkatkan propaganda integritas akademik bagi mahasiswa. Upaya ini adalah untuk mencegah bibit-bibit korupsi yang mungkin tumbuh dari kecurangan-kecurangan kecil yang terjadi dalam pelaksanaan aktivitas akademik di kemahasiswaan.

  • Pemahaman Korupsi dalam Pemerintahan Mahasiswa (Student governance)

Dalam hal ini, mahasiswa diberikan pemahaman tentang definisi korupsi secara luas dan bagaimana cara pencegahannya. Selain itu, ditampilkan contoh-contoh bentuk korupsi di dalam organisasi kemahasiswaan sebagai satu upaya pemupukan kesadaran untuk tidak melakukan tindakan korupsi dalam unit kelembagaan yang kecil. Dengan pemahaman yang ada tentang jenis korupsi yang mungkin terjadi pada organisasi kemahasiswaan, diharapkan penyelenggaraan kelembagaan yang bersih dari korupsi mulai dipraktikkan oleh mahasiswa sejak dini.

  • Propaganda Anti-Korupsi Mahasiswa

Propaganda anti-korupsi mahasiswa diterapkan dengan memberikan aksentuasi pada peran mahasiswa sebagai penerus kepemimpinan. Bahwa sebagai generasi penerus yang mengharapkan kondisi negara yang bersih, maka mahasiswa harus mampu menjaga kebersihan perilakunya dari tindakan korupsi. Tujuan dari hal ini menyadarkan peran sebagai generasi penerus serta menumbuhkan mental anti-korupsi secara permanen.

Mekanisme pembudayaan yaitu dengan cara pemanfaatan media, propaganda, serta ajang-ajang yang melibatkan mahasiswa dalam skala mikro hingga makro. Luaran utama dari gerakan ini adalah timbulnya kesadaran untuk mempertahankan integritas anti-korupsi sejak di bangku kuliah hingga bangku pemerintahan.

Menyelamatkan Investasi Bangsa

Memberikan kesadaran penuh kepada mahasiswa sejak dini tentang bahaya laten korupsi merupakan agenda wajib yang perlu dilakukan. Bukan hanya sekadar pemahaman dan demonstrasi yang hampa pemaknaan, dibutuhkan satu gerakan yang didasari oleh semangat anti-korupsi yang tertanam sebagai satu budaya yang utuh.

Kesadaran yang tertanam kokoh dalam diri mahasiswa yang kelak akan memegang estafet kepemimpinan bangsa merupakan satu bentuk penyelamatan investasi bangsa menuju negara yang bersih dari segala macam bentuk korupsi.

http://inilah.com/berita/citizen-journalism/2009/12/17/227942/merancang-gerakan-anti-korupsi-mahasiswa/

Oleh: Pembela Kebenaran | Desember 2, 2009

Rektor Baru dan Harapan Defeodalisasi

Setelah melalui berbagai tahapan pemilihan, rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) periode 2009-2014 telah terpilih. Adalah Prof. Dr. Akhmaloka, rektor terpilih yang menerima dukungan mutlak 19 suara dari total 27 suara yang ada. Segudang harapan hingga tuntutan mengalir deras ke rektor yang baru, tak lepas mahasiswa sebagai “rakyat” yang secara langsung berada dibawah naungan kepemimpinannya.

Kondisi hubungan antara mahasiswa dengan rektor di beberapa periode sebelumnya memang belum terlalu baik. Masih terlihat jelas adanya jurang yang menganga antara kebijakan rektorat dengan keinginan mahasiswa. Hal inilah yang secara konsekuensional membuncahkan harapan besar mahasiswa terhadap rektor terpilih.

Harapan mahasiswa tersebut dirangkum dalam delapan tuntutan yang sebelumnya secara sah telah ditandatangani oleh ketiga calon rektor. Tuntutan tersebut berkisar antara kebijakan pembinaan, fasilitas fisik, sinergi program, dana pendidikan-kemahasiswaan, hingga kualitas dan kuantitas dosen. Secara menyeluruh, tuntutan tersebut memang telah memenuhi kebutuhan mahasiswa dan teknis institusi. Namun, ada harapan yang belum tersampaikan, karena kebanyakan dari kita tidak menyadari bahwa budaya pendidikan institusional di ITB kembali ke dalam feodalisme primitif.

Feodalisme Institusi

Secara aktual, feodalisme di institusi pendidikan, dalam hal ini ITB, bukan merupakan  hal yang telah mengakar secara kokoh. Sebaliknya, fenomena ini adalah satu benih yang baru tersemai. Dinding feodalisme perlahan dan tanpa sadar mulai dibangun antara rektorat sebagai “penguasa” dengan mahasiswa sebagai “rakyat jelata”.

Beberapa fenomena yang mengindikasikan adanya feodalisme dalam institusi pendidikan ini dapat dilihat dari berubahnya kultur relasi antara rektorat, birokrat, dosen, dan mahasiswa. Hubungan antara rektorat dengan mahasiswa semakin kaku. Interaksi secara langsung dalam situasi informal yang dilakukan oleh rektorat atau dosen kepada mahasiswa pun semakin berkurang. Yang tersisa adalah pola-pola hubungan dalam garis formal dengan tembok batasan yang dibentangkan kokoh.

Penyalahgunaan wewenang dan terbatasnya komunikasi, sebagai salah satu ciri feodalisme, juga terjadi. Tenaga pengajar yang memiliki otoritas dalam menetapkan nilai bagi mahasiswa menyelewengkan haknya dengan bertindak semena-mena. Sikap angkuh yang mengarah ke feodal ditampakkan dengan dalih status dan posisi. Berbagai kebijakan rektorat yang menyentuh kepentingan mahasiswa ditetapkan tanpa ada komunikasi yang seimbang. Alhasil, muncul keputusan-keputusan yang serta-merta menimbulkan protes baik secara massif maupun pranata tertentu dalam konteks kemahasiswaan.

Feodalisme ini bisa berdampak negatif terhadap keberjalanan pendidikan di ITB. Adanya celah yang memberikan batasan hubungan di dalam institusi dapat menjadi retensi terhadap informasi dan nilai yang seharusnya disampaikan dalam proses pendidikan. Kegiatan pendidikan yang membutuhkan daya dukung dari berbagai komponen pun akan terganggu. Secara tidak langsung, hal tersebut dapat berpengaruh terhadap kualitas mahasiswa yang merupakan luaran dari proses tersebut. Oleh karena itu, tembok feodalisme dalam pendidikan di kampus sudah seharusnya diruntuhkan, agar terselenggara proses pembinaan-pendidikan yang efektif dan dinamis.

Defeodalisasi

Dalam kepemimpinan yang baru, rektor sebagai pimpinan struktural diharapkan dapat mengejawantahkan kebijakan yang tidak berarah pada feodalisme. Sebagai pemimpin kultural, peran rektor dalam memberikan teladan yang hangat dan interaktif bisa mengembalikan martabat hubungan harmonis antara rektorat dengan mahasiswa.

Langkah sederhana, seperti reorientasi kebijakan dengan membuka akses komunukasi sebesar-besarnya terhadap kebijakan yang ada dapat menjadi alternatif awal. Atau, bahkan, tindakan kecil dengan secara intensif mengunjungi kampus tanpa hanya berkutat di dalam “istana” bisa jadi adalah tindakan yang konstruktif dalam budaya di dalam kampus ITB.

Rektor terpilih, Prof. Dr. Akhmaloka, disematkan harapan yang mulia, untuk berupaya mewujudkan defeodalisasi ITB. Harapannya, ITB bukan hanya mampu menjadi world class university yang berkebangsaan –seperti visi yang beliau bawa, tetapi juga berhasil menjadi insitusi yang bersahabat dan manusiawi. Namun, cita tersebut bukan hanya menjadi beban beliau, melainkan menjadi kewajiban kita semua untuk mewujudkannya bersama-sama.

Oleh: Pembela Kebenaran | November 17, 2009

Momentum

Bayangkan, Adik-adik, selembar daun dibagi menjadi seukuran kecil (kloroplas), lalu dibagi lagi sekecil stroma, yang di dalamnya ada organ super-kecil bernama grana, maka disanalah, proses serumit fotosintesis yang melibatkan reaksi yang sedemikian kompleks terjadi. Subhanallah. (Guru NF, Pak Siapa gitu)

Motivasi manusia memang seringkali berubah dalam satu waktu, karena satu alasan tertentu. Cao Cao di legenda tiga kerajaan memutuskan untuk menunda waktu perang hanya karena secangkir teh yang ditawarkan secara tiba-tiba. Maka, dalam sekerlip mata, tebing merah menjadi saksi berhasilnya strategi Zhuge Liang dalam memanfaatkan cuaca dan momentum. Ya, momentum.

Ribuan tahun setelahnya, momentum yang sama menjadikan kalimat biasa yang di-highlight di awal tadi terdengar luar biasa oleh salah seorang anak di dalam kelas. Dan anak itu memekikkan azzam dalam hati, bahwa dia akan memperdalam ilmu Biologi untuk menggali lebih banyak kekuasaan ilahi. Satu hal yang ia kagumi hingga saat ini, bahwa ia memilih jurusan atas alasan keimanan.

Kehidupan bergulir, dan keadaan pun mulai berkhianat. Ternyata, Biologi tidak seindah di khayalan. Bukan karena konten yang disampaikan, tetapi musabab metode konvensional yang biasa digunakan. Bahwa reaksi lipid yang ditampilkan laksana kartun bergandengan, atau transkripsi genetik yang diilustrasikan seperti permen kaki, baginya tidak masuk akal. Ia merasa ditipu oleh ilmuwan-ilmuwan yang baginya hanya sok tahu. Ia pun malas. Karena dosen-dosen memaksa buku setebal spring bed berisikan hal-hal membosankan untuk dihapalkan, perhatikan ini: dihapalkan. Baginya tidak menarik, tidak ada yang menarik.

Dua tahun lebih berlalu, dan momentum yang ia nanti sejak lama akhirnya datang jua. Ketika sebiji tugas tentang aplikasi teknologi melayangkannya pada satu cabang dalam ekologi: Ekologi Manusia. Dia tertegun, ketika definisi tentang ekologi manusia dalam seketika memesonanya. Laksana Adam yang dipertemukan dengan Hawa, ia tersenyum simpul. “Ah, sepertinya ini jodohku”, gumamnya.

Maka, satu, dua, tiga, seribu. Seribu rencana di hadapannya bersegera berebut tempat. Satu, dua, tiga, seribu. Seribu langkah bersegera ia tambat. Dari dasar ilmu, tema tugas akhir, dosen pembimbing, lokasi kerja praktek, dan sejumlah karya lainnya telah ia bayangkan, dan mulai ia gariskan. Ia tersenyum sendiri, karena hanya dia yang bisa menikmati momentum ini.

***

“Wah, bagus sih, tapi Ekologi Manusia adanya di S2, belum pernah mahasiswa S1 yang bikin skripsi tentang itu”, ujar seorang dosen di kereta kembali dari Bali. Mendengar hal itu, senyumnya semakin lebar. Dan momentum itu semakin ia genggam.

Tulisan Sebelumnya »

Kategori